Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Asap tipis mengepul dari semangkuk ancur paddas. Aroma rempahnya perlahan tercium, berpadu dengan rasa gurih dan pedas yang menjadi ciri khas kuliner tradisional Berau.
Bagi masyarakat Bumi Batiwakkal, makanan ini bukan sekadar hidangan untuk mengganjal perut. Di balik semangkuk ancur paddas, tersimpan jejak tradisi, kebiasaan masyarakat hingga cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau melihat ancur paddas memiliki peluang untuk menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Bukan hanya disajikan sebagai makanan khas, tetapi diperkenalkan bersama sejarah dan budaya yang melekat di dalamnya.
Ancur paddas merupakan salah satu kuliner yang telah begitu lekat dengan identitas daerah. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan kebudayaan menjadi momentum untuk memperkenalkannya kepada lebih banyak orang.
“Ancur paddas sudah menjadi makanan identik di Kabupaten Berau,” ujar Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa.
Menurut Yudha, kuliner tradisional akan memiliki daya tarik lebih kuat apabila wisatawan tidak hanya mengenal rasanya, tetapi juga mengetahui cerita di balik makanan tersebut.
Karena itu, pengembangan ancur paddas ke depan tidak berhenti pada perlombaan memasak atau penyajian di sebuah acara. Disbudpar ingin kuliner tersebut memiliki ruang untuk berkembang, termasuk melalui inovasi rasa, tampilan, dan cara penyajian.
Namun, inovasi itu tetap perlu berjalan berdampingan dengan upaya menjaga karakter asli makanan.
“Kalau ada sejarah dan cerita di baliknya, orang tidak hanya makan. Mereka juga tahu apa yang sedang mereka nikmati. Itu yang bisa menjadi daya tarik wisata,” jelasnya.
Upaya memperkenalkan kuliner khas daerah juga mulai diarahkan ke sektor pariwisata. Disbudpar mendorong hotel, resor, hingga cottage di Berau untuk ikut menghadirkan makanan tradisional dalam layanan mereka.
Ancur paddas, misalnya, dapat diperkenalkan sebagai salah satu pilihan menu sarapan bagi wisatawan.
Langkah sederhana itu memiliki arti penting. Wisatawan yang datang ke Berau tidak hanya membawa pulang foto dari destinasi wisata, tetapi juga pengalaman rasa yang mengingatkan mereka pada daerah yang dikunjungi.
Bayangkan, sebelum berangkat menikmati laut Maratua, menyusuri keindahan Biduk-Biduk, atau menjelajahi destinasi alam lainnya, wisatawan terlebih dahulu mengenal Berau melalui semangkuk makanan tradisional.
Dari situlah kuliner dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata.
Bagi Yudha, semakin banyak ruang yang diberikan kepada makanan tradisional, semakin besar pula kesempatan generasi muda untuk mengenal dan melanjutkan warisan tersebut.
Disbudpar pun berharap kegiatan kuliner ke depan tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Kreativitas masyarakat perlu terus dibuka agar makanan tradisional dapat tampil lebih menarik tanpa kehilangan identitasnya.
“Harapan kami, promosi kuliner semakin luas. Tahun depan kegiatan bisa lebih ramai dan kreatif, sehingga kebudayaan Berau semakin dikenal dan tetap lestari,” pungkasnya.
Pada akhirnya, wisata tidak selalu dimulai dari tempat yang jauh atau pemandangan yang megah.
Terkadang, perjalanan mengenal sebuah daerah bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana. Dari aroma rempah, rasa pedas dan gurih, serta semangkuk ancur paddas yang membawa cerita tentang Berau. (Adv)



