Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan (PMT) lokal dalam upaya menekan prevalensi stunting, tetapi juga memperluas penguatan layanan kesehatan hingga tingkat masyarakat.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengaku berdasarkan data September 2026, angka stunting di Kukar berada di level 14,2 persen. Capaian tersebut masih sesuai dengan target yang ditetapkan, tapi pemkab tetap mendorong penurunan hingga sekitar 12,2 persen.
“Capaian yang sudah ada harus terus kita jaga. Program penanganan stunting tetap menjadi perhatian dan perlu dipastikan pelaksanaannya berjalan secara berkelanjutan,” ujar Ismi, Rabu (21/9/2026).
Salah satu intervensi yang terus dijalankan yakni PMT lokal melalui puskesmas di kecamatan, kelurahan maupun desa. Program ini menyasar ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK), serta bayi dan balita yang mengalami stunting.
Menu PMT disusun oleh tenaga gizi dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi penerima. Kandungan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya disesuaikan agar pemberian makanan tambahan tidak sekadar mengatasi kekurangan asupan, tetapi juga menunjang proses tumbuh kembang anak.
Bahan pangan lokal juga dimanfaatkan dalam penyusunan menu, termasuk kacang-kacangan dan berbagai sumber protein yang mudah diperoleh di daerah.
Deteksi terhadap ibu hamil yang berisiko mengalami KEK dilakukan sejak dini. Salah satu indikator yang digunakan adalah pengukuran lingkar lengan atas (LILA). Ibu hamil dengan ukuran LILA di bawah 23 sentimeter masuk dalam kelompok yang membutuhkan perhatian dan penanganan lebih lanjut.
Di sisi lain, Dinkes Kukar juga memperkuat peran kader dan tenaga kesehatan di tingkat masyarakat. Peningkatan kapasitas kader posyandu dan petugas dilakukan bersama Yayasan Cipta melalui sejumlah kegiatan, termasuk pilot project di wilayah Loa Janan dan Tenggarong Seberang.
Penguatan layanan juga diarahkan untuk mendekatkan akses pemeriksaan kepada masyarakat. Dinkes Kukar menghadirkan dokter spesialis anak di sejumlah wilayah sehingga masyarakat tidak harus selalu menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
“Penanganan tidak hanya dilakukan dari satu sisi. Kami juga meningkatkan kemampuan kader dan petugas, sekaligus mendekatkan pemeriksaan dokter spesialis anak ke wilayah yang membutuhkan,” jelasnya.
Selain penanganan stunting, Dinkes Kukar turut memantau penurunan angka kematian balita dan pencapaian indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Menurut Ismi, berbagai indikator tersebut perlu dijaga secara berkelanjutan untuk memastikan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan tidak berhenti pada pencapaian angka tertentu.
“Angka September berada di 14,2 persen dan masih sesuai target. Selanjutnya kami membidik sekitar 12,2 persen, sehingga berbagai upaya yang sudah berjalan harus terus kita maksimalkan,” pungkas



