80 Persen Atlet Kutim Didominasi dari Sangatta, Potensi di Kecamatan Belum Sepenuhnya Terdata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

80 Persen Atlet Kutim Didominasi dari Sangatta, Potensi di Kecamatan Belum Sepenuhnya Terdata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

80 Persen Atlet Kutim Didominasi dari Sangatta, Potensi di Kecamatan Belum Sepenuhnya Terdata 

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan 

SANGATTA – Pencarian bibit atlet di Kabupaten Kutim masih dinilai terlalu terpusat di Sangatta. Sekitar 80 persen atlet Kutim disebut berasal dari ibu kota kabupaten yakni sangatta. Sementara potensi atlet dari sejumlah kecamatan belum seluruhnya terdata.

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi menilai, kondisi itu perlu diatasi melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pendataan dan pencarian bibit atlet.

“Digitalisasi harus membantu kita melakukan talent scoring. Atau pencarian bibit atlet. Oleh karena itulah digitalisasi ini harus sampai kecamatan-kecamatan,” ujar Mahyunadi saat mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim.

Menurut Mahyunadi, wilayah seperti Bengalon, Sangkulirang, Kongbeng, Telen dan Busang perlu masuk dalam cakupan pencarian bibit atlet.

Selama ini, potensi dari wilayah tersebut berisiko tidak terpantau apabila pendataan hanya berpusat di Sangatta.

Ia mencontohkan Telen dan Busang yang disebut memiliki potensi atlet voli, khususnya voli putri.

“Telen dan Busang itu walaupun jauh, daerahnya terpencil, tapi biasanya banyak menghadirkan atlet-atlet voli khususnya voli wanita. Karena posturnya tinggi-tinggi. Jadi, dengan adanya teknologi ini kita harus bisa menemukan mereka,” jelasnya.

Mahyunadi menilai fungsi sistem digital tidak cukup hanya mencatat atlet yang sudah masuk dalam pembinaan. 

Sistem tersebut juga perlu digunakan untuk menemukan atlet potensial sejak usia muda dan memantau perkembangannya.

Persoalan pendataan juga mencakup atlet asal Kutim yang saat ini menempuh pendidikan di luar daerah. 

Sebagian di antaranya disebut memiliki potensi untuk bersaing di tingkat nasional, tetapi keberadaan dan perkembangannya belum seluruhnya terdokumentasi.

“Banyak atlet-atlet kita yang sudah punya potensi untuk berkancah di nasional. Misalnya ada beberapa atlet kita sekarang yang sekolah di luar Kutim yang punya potensi punya prestasi bagus, namun datanya masih simpang siur,” kata Mahyunadi.

Dengan sistem pendataan yang lebih terintegrasi, pemerintah dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) diharapkan dapat mengetahui perkembangan atlet lebih awal, termasuk ketika kemampuan mereka mulai meningkat. 

Dengan begitu, pembinaan dapat dilakukan sebelum atlet memasuki jenjang prestasi yang lebih tinggi.

“Ketika potensinya meningkat, pemerintah dan KONI dapat mengetahui lebih awal hingga pembinaannya tidak terlambat,” ucapnya.

Mahyunadi menargetkan sistem tersebut tidak hanya digunakan untuk menemukan atlet yang berprestasi di tingkat Kutim. 

Potensi atlet dari daerah juga diarahkan agar dapat berkembang hingga mewakili Kutai Timur di tingkat Provinsi Kaltim, nasional, maupun internasional.