Sangatta Selatan Mulai Jadi Wilayah dengan Kasus Malaria Tinggi di Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kini Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur mulai memasuki wilayah tinggi kasus malaria. (Foto: Dok. kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Kini Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur mulai memasuki wilayah tinggi kasus malaria. (Foto: Dok. kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sangatta Selatan Mulai Jadi Wilayah dengan Kasus Malaria Tinggi di Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kini Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur mulai memasuki wilayah tinggi kasus malaria. (Foto: Dok. kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Kini Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur mulai memasuki wilayah tinggi kasus malaria. (Foto: Dok. kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sangatta Selatan Mulai Jadi Wilayah dengan Kasus Malaria Tinggi di Kutim

Kini Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur mulai memasuki wilayah tinggi kasus malaria. (Foto: Dok. kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Sangatta Selatan mulai masuk dalam wilayah dengan kasus malaria cukup tinggi di Kabupaten Kutim.

Hingga Agustus 2026, tercatat 21 kasus positif malaria ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Sangatta Selatan.

Data Dinkes Kutim mencatat total 125 kasus positif malaria hingga Agustus 2026. Kasus terbanyak berada di wilayah kerja Puskesmas Sandaran dengan 32 kasus, kemudian Kaliorang 25 kasus, Sangatta Selatan 21 kasus dan Sangkulirang 13 kasus.

Kasus lainnya ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Teluk Lingga sebanyak delapan kasus, Karangan Dalam enam kasus, Kaubun lima kasus, Muara Wahau I empat kasus, Teluk Pandan tiga kasus, serta Sepaso dan Kongbeng masing-masing dua kasus.

Sementara Puskesmas Sangatta Utara, Telen, Busang dan Muara Wahau, masing-masing mencatat satu kasus.

Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati membeberkan, malaria sebelumnya lebih banyak ditemukan di wilayah seperti Sandaran dan Sangkulirang yang memiliki kawasan hutan.

Namun, dalam perkembangannya kasus juga mulai banyak ditemukan di Sangatta Selatan.

“Dulu malaria ini yang ada kan misalnya di Sandaran, Sangkulirang yang memang daerah-daerah hutan begitu ya. Nah, ternyata ini Sangatta Selatan pun sudah banyak juga kasus malaria,” ujar Yuwana.

Menurut Yuwana, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah aktivitas pembukaan lahan, baik untuk perkebunan maupun permukiman.

Kondisi itu dapat mengubah lingkungan tempat hidup nyamuk dan meningkatkan risiko penularan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya.

“Kalau ada pembukaan lahan, sawit misalnya atau memang hutan yang dibuka untuk perumahan, apalagi itu kan pasti nyamuknya lari semua dan orang yang di situ tadi akan tergigit,” katanya.

Karena itu, Yuwana meminta masyarakat yang melakukan pembukaan lahan, baik secara mandiri, melalui kelompok tani maupun perusahaan, berkoordinasi dengan Puskesmas terdekat.

“Siapapun itu kalau melakukan pembukaan lahan, baik itu secara mandiri, biasanya kelompok tani atau yang lewat perusahaan, mohon bisa selalu berkoordinasi dengan Puskesmas setempat,” tambahnya.

Koordinasi tersebut, kata Yuwana, diperlukan agar petugas kesehatan dapat melakukan pemeriksaan terhadap masyarakat yang beraktivitas di lokasi, termasuk pengambilan sampel darah untuk mendeteksi malaria.

Jika ditemukan kasus positif, pasien akan mendapatkan pengobatan. Petugas juga dapat melakukan langkah pencegahan di sekitar lokasi, termasuk pemberian kelambu berinsektisida.

Yuwana mengingatkan masyarakat tidak menganggap malaria sebagai penyakit ringan. Penyakit tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit malaria.

Anopheles adalah genus nyamuk yang bertindak sebagai vektor atau pembawa parasit penular penyakit malaria kepada manusia.

Dalam kondisi tertentu, malaria dapat berkembang menjadi malaria serebral ketika infeksi menyerang otak. Kondisi tersebut dapat berakibat fatal apabila tidak segera ditangani.

“Ada yang memang paling berbahaya namanya malaria serebral. Jadi sampai ke otak. Kalau sudah menyerang otak ya akhirnya pasiennya bisa meninggal,” tegasnya.