Banner ADV

Puncak Rasul, Gunungan Ketan yang Menyimpan Filosofi Kerukunan Masyarakat Berau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Puncak Rasul, Makanan Khas Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Puncak Rasul, Makanan Khas Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Puncak Rasul, Gunungan Ketan yang Menyimpan Filosofi Kerukunan Masyarakat Berau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Puncak Rasul, Makanan Khas Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Puncak Rasul, Makanan Khas Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Puncak Rasul, Gunungan Ketan yang Menyimpan Filosofi Kerukunan Masyarakat Berau

Puncak Rasul, Makanan Khas Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Dari kejauhan, Puncak Rasul tampak seperti gunungan berwarna-warni yang menjulang dari hamparan nasi ketan. 

Namun, kuliner tradisional masyarakat Berau ini bukan sekadar hidangan yang disajikan dalam sebuah perayaan.

Di balik tiga warna yang menghiasi Puncak Rasul, tersimpan cerita tentang kerajaan, pengabdian, hingga kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi kerukunan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa menjelaskan, Puncak Rasul memiliki filosofi yang kuat dan berkaitan dengan tatanan kehidupan masyarakat Berau pada masa lalu.

Tiga warna utama yang digunakan, yakni kuning, merah dan putih, masing-masing memiliki makna tersendiri.

“Warna kuning merupakan simbol keluarga besar kerajaan Berau, yang menggambarkan keagungan dan kehormatan. Merah melambangkan para pengabdi kerajaan, seperti menteri dan penggawa yang bertugas mengayomi serta melindungi masyarakat,” jelasnya.

Sementara warna putih memiliki makna yang lebih luas. Selain berkaitan dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW, warna tersebut dimaknai sebagai gambaran kerukunan masyarakat di Kabupaten Berau.

Menariknya, filosofi itu tidak berhenti pada warna. Bahan utama Puncak Rasul berupa nasi ketan juga memiliki pesan yang tidak kalah kuat.

Ketan dikenal memiliki tekstur yang lengket. Sifat itulah yang kemudian dimaknai sebagai simbol perekat hubungan antarmasyarakat.

“Bahan utamanya ketan. Sifat ketan yang lengket itu menjadi simbol bahwa masyarakat harus terus melekat dalam persatuan, kebersamaan dan kerukunan,” ujarnya.

Jika disatukan, maka warna dan bahan Puncak Rasul seolah membentuk sebuah cerita utuh. 

Kuning mengingatkan pada akar kerajaan Berau, merah menggambarkan mereka yang mengabdi dan menjaga masyarakat, sedangkan putih menjadi simbol keteladanan sekaligus kehidupan yang rukun.

Bagi Disbudpar Berau, filosofi semacam ini penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda. Sebab, warisan budaya tidak hanya berbentuk benda, pakaian, tarian atau bangunan bersejarah, tetapi juga dapat hadir melalui makanan tradisional.

Puncak Rasul menjadi salah satu contoh bahwa sebuah kuliner dapat menyimpan pengetahuan tentang sejarah dan nilai kehidupan masyarakat.

Karena itu, pengenalan Puncak Rasul tidak cukup hanya dengan memperlihatkan bentuk dan rasanya.

Cerita di balik setiap warna dan bahan yang digunakan juga menjadi bagian penting agar masyarakat memahami bahwa kuliner tradisional Berau memiliki identitas dan nilai budaya yang kuat.

“Jadi Puncak Rasul ini bukan hanya soal kuliner. Ada nilai sejarah, budaya dan pesan tentang bagaimana kita menjaga kebersamaan sebagai masyarakat Berau,” pungkasnya.

Di tengah perubahan zaman, Puncak Rasul pun menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak selalu harus disimpan di museum. 

Ia bisa tetap hidup di tengah masyarakat, disajikan, disantap, sekaligus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Adv)