Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN – Kabar keberadaan kucing merah (Catopuma badia) kembali menguat di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Kalimantan Utara. Satwa liar yang tergolong langka tersebut berhasil direkam melalui kamera jebak (camera trap) yang dipasang petugas Balai TNKM di sejumlah lokasi.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito mengatakan, keberadaan kucing merah di kawasan TNKM bukan informasi baru. Catatan mengenai satwa tersebut telah ditemukan sejak 2003 dan kembali teridentifikasi pada 2023 hingga 2025.
“Yang pertama ditemukan tahun 2003 dan kembali ditemukan tahun 2023 dan terakhir 2025,” kata Seno, Kamis (24/9/2026).
Menurut Seno, informasi mengenai keberadaan kucing merah tersebar di sejumlah wilayah yang berada dalam bentang kawasan TNKM, termasuk Bahau dan Mentarang di Kabupaten Malinau.
Sementara di Kabupaten Nunukan, petugas TNKM juga pernah menemukan dan mendokumentasikan keberadaan kucing merah di wilayah Krayan pada 2023.
“Staf kami, petugas kami juga menemukan dan mendapatkan videonya kucing merah ini di Krayan, Kabupaten Nunukan,” ujarnya.
Temuan tersebut menjadi salah satu data penting bagi Balai TNKM untuk memantau keberadaan dan sebaran kucing merah di kawasan konservasi yang membentang di wilayah Kabupaten Malinau dan Nunukan.
Pemantauan dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya menggunakan kamera jebak. Perangkat tersebut dipasang di habitat yang dinilai menjadi lokasi perlintasan satwa untuk merekam aktivitas satwa liar secara alami tanpa harus melakukan kontak langsung.
Kepala Resort Mentarang Tubu Mahfu'ad mengatakan, kamera jebak dipasang sejak September 2025 dan kemudian diambil kembali pada Agustus 2026. Pemasangan dilakukan dengan target utama memantau macan dahan dan kucing merah.
Hasilnya, kamera jebak berhasil merekam kucing merah di wilayah Halian Tubu dan Long Pala, Kabupaten Malinau.
“Dalam pemasangan ini kami menargetkan yaitu macan dahan dan kucing merah. Alhamdulillah berhasil, ada tangkapan untuk kucing merah di wilayah Halian Tubu dan kami juga dapat tangkapan di daerah Long Pala,” kata Mahfu'ad.
Bagi Balai TNKM, keberhasilan merekam kucing merah menjadi informasi penting dalam pemantauan spesies kunci di kawasan tersebut. Dokumentasi melalui kamera jebak juga memberikan gambaran mengenai keberadaan satwa tanpa mengganggu aktivitasnya di habitat alami.
Namun, informasi mengenai kucing merah tidak hanya berasal dari perangkat pemantauan. Kesaksian masyarakat dan petugas yang beraktivitas di sekitar kawasan juga menjadi sumber informasi dalam mendeteksi keberadaan satwa liar tersebut.
Salah satunya dialami Ferli, staf Resort Krayan. Ia mengaku pernah melihat seekor satwa di sekitar kebunnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari kawasan TNKM.
Saat itu, Ferli sedang beristirahat di kebun ketika seekor satwa tiba-tiba muncul di sekitar lokasi. Ia mengaku belum mengetahui jenis satwa tersebut ketika pertama kali melihatnya.
“Pas ketemunya itu mulainya dari daerah kebun saya yang tidak jauh dari kawasan Taman Nasional, kurang lebih sekitar dua kilometer. Saat penemuannya saya sedang duduk istirahat, tidak lama muncul binatang itu, kita tidak tahu jenisnya binatang apa,” tuturnya.
Setelah mencari informasi lebih lanjut, satwa yang dilihatnya diketahui merupakan kucing merah.
Seno mengatakan, keberadaan kucing merah menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati TNKM. Karena itu, keberlangsungan habitat menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian bersama.
Menurut dia, masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan konservasi memiliki peran penting dalam menjaga habitat satwa serta menyampaikan informasi apabila menemukan kemunculan satwa liar.
“Untuk itu kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, seluruh pihak yang ada untuk dapat membantu kami di dalam melestarikan kucing merah ini yang sudah sangat langka dan menjadi satwa endemik di Kalimantan Utara pada umumnya,” tegas Seno.
Balai TNKM, kata Seno, akan terus melakukan pemantauan keanekaragaman hayati melalui kamera jebak, pengamatan petugas, serta informasi yang diperoleh dari masyarakat.
Kembali terekamnya kucing merah di sejumlah titik di TNKM menjadi indikasi bahwa satwa tersebut masih ditemukan di bentang alam kawasan perbatasan Kalimantan Utara. Kondisi itu sekaligus menegaskan pentingnya menjaga habitat agar keberadaan satwa langka tersebut tetap dapat dipertahankan.


