Festival Lom Plai, Sekerat hingga Erau Diusulkan Masuk Buku Sejarah dan Budaya Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Suasana pelaksanaan Festival Lom Play di Kutai Timur. (Foto: Konsorsium Media Politika Kutai Timur)
Suasana pelaksanaan Festival Lom Play di Kutai Timur. (Foto: Konsorsium Media Politika Kutai Timur)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Festival Lom Plai, Sekerat hingga Erau Diusulkan Masuk Buku Sejarah dan Budaya Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Suasana pelaksanaan Festival Lom Play di Kutai Timur. (Foto: Konsorsium Media Politika Kutai Timur)
Suasana pelaksanaan Festival Lom Play di Kutai Timur. (Foto: Konsorsium Media Politika Kutai Timur)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Festival Lom Plai, Sekerat hingga Erau Diusulkan Masuk Buku Sejarah dan Budaya Kutim

Suasana pelaksanaan Festival Lom Play di Kutai Timur. (Foto: Konsorsium Media Politika Kutai Timur)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan 

SANGATTA – Sejumlah tradisi dan kegiatan budaya di Kabupaten Kutim didorong untuk tidak berhenti sebagai agenda tahunan. 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim berencana mendokumentasikan berbagai kegiatan tersebut dalam bentuk buku.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono mengatakan, pembukuan diperlukan agar sejarah dan perkembangan kegiatan budaya di daerah dapat terdokumentasi secara lebih lengkap.

Menurutnya, dokumentasi kegiatan selama ini tidak cukup jika hanya berupa poster maupun catatan pelaksanaan acara.

“Saya memang sangat berharap semua kegiatan-kegiatan yang khususnya terkait dengan sejarah ataupun kegiatan yang bersifat event-event itu dibukukan menjadi sebuah buku. Bukan hanya sekadar poster atau sekadar catatan biasa. Saya ingin semua itu menjadi buku,” kata Mulyono.

Sejumlah kegiatan yang disebut berpotensi didokumentasikan antara lain Festival Sekerat Nusantara, Festival Lom Plai di Muara Wahau, tradisi Upah di Miau Baru, hingga pelaksanaan Erau. Berbagai kegiatan budaya lainnya di Kutim juga dapat masuk dalam dokumentasi tersebut.

Mulyono mengatakan, penyusunan buku nantinya perlu melalui kajian dengan melibatkan pihak-pihak yang memahami sejarah dan kebudayaan daerah. 

Langkah itu dinilai penting agar informasi yang dimuat tidak sekadar menjadi dokumentasi acara, tetapi mampu menggambarkan kondisi sejarah dan budaya Kutim.

“Harapan kita buku ini betul-betul terstandar dan betul-betul bisa menceritakan bagaimana kondisi yang sesungguhnya, bagaimana kondisi riil yang ada di Kutai Timur,” ujarnya.

Dokumentasi tersebut juga diarahkan untuk menjadi bagian dari koleksi museum Kutim.

Menurut Mulyono, pembangunan museum mulai dilaksanakan tahun ini dan diharapkan dapat rampung serta difungsikan dalam beberapa tahun mendatang.

“Terpenting lagi adalah harapan saya nantinya buku-buku ini akan menjadi koleksi museum,” pungkasnya.