Banner ADV

Kualitas Air Jadi Penentu, Diskan Berau Tahan Penebaran Bibit Ikan di Lima Wilayah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Seputar Fakta)
Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Seputar Fakta)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kualitas Air Jadi Penentu, Diskan Berau Tahan Penebaran Bibit Ikan di Lima Wilayah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Seputar Fakta)
Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Seputar Fakta)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kualitas Air Jadi Penentu, Diskan Berau Tahan Penebaran Bibit Ikan di Lima Wilayah

Kepala Bidang Budi Daya, Budiono. (Foto: Seputar Fakta)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Bantuan bibit ikan tidak serta-merta langsung ditebar. Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau memilih memastikan kondisi lokasi budidaya benar-benar siap sebelum benih diserahkan kepada kelompok penerima.

Langkah itu menjadi bagian dari distribusi bantuan sarana dan prasarana (sapras) serta bibit perikanan yang saat ini menyasar lima wilayah, yakni Tanjung Redeb, Labanan Makarti, Samburakat, Melati Jaya dan Merancang Ilir.

Kepala Bidang Budidaya, Budiono, menyebut sebagian besar sapras telah sampai kepada kelompok penerima. Sementara penyaluran benih masih menunggu kesiapan masing-masing lokasi.

Menurutnya, kondisi air menjadi salah satu pertimbangan utama karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan ikan bertahan dan tumbuh selama masa pemeliharaan.

“Yang kami lihat bukan hanya sarana yang tersedia, tetapi juga kondisi airnya,” kata Budiono.

Ia menambahkan, kelompok penerima juga tidak hanya diberikan bantuan, tetapi dibekali pemahaman dasar agar mampu mengelola ikan setelah benih ditebar. Materi pendampingan mencakup proses adaptasi benih, pola pemberian pakan, kebersihan wadah hingga pemilihan benih.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mencegah bantuan berhenti sebatas penyerahan. Kelompok diharapkan mampu menjaga keberlanjutan budidaya hingga menghasilkan produksi.

Persoalan kualitas air juga menjadi perhatian khusus Diskan di kawasan Bedungun, Tanjung Redeb. Di lokasi itu, aktivitas budidaya ikan menggunakan keramba sungai menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan budidaya menggunakan kolam maupun bak terpal.

Perubahan kondisi sungai dapat berlangsung cepat sehingga pembudi daya memiliki ruang yang lebih terbatas untuk mengendalikan parameter air. Kondisi tersebut membuat pengelolaan keramba membutuhkan langkah antisipasi yang lebih kuat.

“Kalau di sungai, perubahan air sangat bergantung pada kondisi alam. Karena itu, pencegahan harus menjadi perhatian pembudi daya,” ujarnya.

Diskan mendorong pembudi daya memperkuat langkah mitigasi, antara lain dengan penggunaan aerasi tambahan serta pemberian imunostimulan melalui pakan untuk membantu menjaga kondisi ikan ketika menghadapi perubahan lingkungan.

Di Bedungun sendiri, terdapat sekitar 25 pembudi daya yang mengoperasikan sekitar 150 hingga 200 unit keramba. Jumlah tersebut membuat penguatan sistem pengelolaan air menjadi salah satu kebutuhan yang dinilai penting.

Diskan pun berencana mengusulkan bantuan blower melalui anggaran tahun depan. Peralatan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan oksigen terlarut di dalam keramba, terutama ketika kondisi perairan mengalami perubahan.

Sementara untuk program bantuan di lima wilayah, proses distribusi akan dilanjutkan secara bertahap. Benih baru diberikan setelah sarana pendukung tersedia dan kondisi lokasi dinilai cukup aman untuk memulai budidaya.

Dengan pola tersebut, Diskan tidak hanya mengejar penyaluran bantuan, tetapi juga berupaya memastikan benih yang diberikan memiliki peluang hidup dan berkembang dengan baik di lokasi penerima. (Adv)