Natsir Ajak Mahasiswa Berani Keluar dari Zona Nyaman: “Waktu Adalah Nyawa”

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Natsir Ajak Mahasiswa Berani Keluar dari Zona Nyaman: “Waktu Adalah Nyawa”

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Natsir Ajak Mahasiswa Berani Keluar dari Zona Nyaman: “Waktu Adalah Nyawa”

Diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

TENGGARONG - Perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja membuat generasi muda dituntut tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga berani mengambil langkah dan menciptakan peluang.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Satria Kukar, Muhammad Natsir Hidayat saat menjadi narasumber dalam diskusi publik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Senin (28/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kantin Unikarta itu mengangkat tema “Saat Zaman Berubah, Pemuda Harus Apa?”. Diskusi digagas BEM Unikarta bersama BEM se-Kalimantan dan Forum Mahasiswa Hulu.

Selain Natsir, forum tersebut menghadirkan Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akbar Haka. Keduanya membahas berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja hingga peluang ekonomi.

Natsir yang juga menjabat Ketua Satuan Relawan Indonesia Raya (SATRIA) Kukar mengatakan, mahasiswa perlu membangun keberanian untuk bergerak dan tidak sekadar menunggu peluang datang.

Menurutnya, perubahan zaman semestinya dipandang sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menciptakan kesempatan baru. Salah satu hal yang menjadi sorotannya adalah bagaimana anak muda menggunakan waktu.

Ia menilai waktu memiliki nilai yang tidak bisa digantikan dan kesempatan yang terlewat tidak selalu dapat kembali. “Waktu adalah nyawa,” tegas Natsir di hadapan mahasiswa.

Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak membiasakan diri menunda pekerjaan maupun rencana yang sebenarnya bisa mulai dilakukan sejak sekarang. “Pesan buat teman-teman mahasiswa, jangan bosan-bosan untuk melakukan perubahan, memiliki dobrakan-dobrakan atau sesuatu yang baru, yang sifatnya positif,” kata Natsir.

Menurutnya, keberanian melakukan perubahan juga harus dibarengi dengan keterbukaan terhadap perkembangan teknologi. Mahasiswa perlu memahami teknologi dan menggunakannya sesuai kebutuhan.

“Jangan anti terhadap perubahan khususnya di teknologi, jadi gunakanlah perubahan-perubahan di teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan secara positif,” ujarnya.

Natsir menilai perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi dan robotika menjadi gambaran bahwa kebutuhan dunia kerja akan terus berubah. Kondisi itu membuat generasi muda perlu mempersiapkan kemampuan sejak berada di bangku pendidikan.

Karena itu, mahasiswa didorong meningkatkan keterampilan, memperluas pengalaman dan berani mencoba hal-hal baru. Status sebagai mahasiswa, kata dia, bukan alasan untuk menunggu sampai lulus sebelum mulai berkarya.

Ia juga mengajak generasi muda lebih jeli melihat peluang, termasuk di sektor usaha. Menurutnya, inisiatif dan inovasi menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan yang berlangsung cepat.

“Harapan saya mudah-mudahan setelah pasca kegiatan ini, teman-teman mau keluar dari zona-zona yang mungkin masih zona nyaman, kemudian melakukan suatu gerakan yang sebelumnya, ditunda-tunda,” kata Natsir.

Ia berharap diskusi yang digelar tidak berhenti sebagai pertukaran gagasan. Mahasiswa diharapkan mampu menerjemahkan hasil diskusi menjadi langkah nyata, baik untuk target jangka pendek maupun rencana jangka panjang.

“Jadi ada satu tools atau goals yang ingin dicapai oleh teman-teman mahasiswa setelah dalam hal ini jangka pendek maupun jangka panjang,” lanjutnya.

Natsir menilai produktivitas generasi muda tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi. Kapasitas dan kemandirian pemuda juga dapat memberikan dampak bagi lingkungan serta daerah tempat mereka berada.

Dalam diskusi tersebut, pendidikan dan wadah pengembangan kapasitas turut menjadi bagian pembahasan. Pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan generasi muda agar mampu menghadapi perubahan sekaligus menghasilkan gagasan dan karya yang bermanfaat.

Bagi Natsir, perubahan zaman seharusnya menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk terus belajar dan bergerak. Kesempatan yang tersedia perlu dimanfaatkan sebelum waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.