Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Bambang Irawan
BONTANG – Guru madrasah di Kota Bontang didorong tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Workshop Implementasi Integrasi Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), dan Penguatan Pemahaman Instrumen Akreditasi Madrasah yang digelar di Auditorium 3 Dimensi, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan dibuka Staf Ahli Pemerintahan dan Hukum Kota Bontang, Anwar Sadat, mewakili Wali Kota Bontang. Workshop diikuti 166 peserta dari 170 peserta yang terdaftar, terdiri atas guru madrasah jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).
Anwar mengatakan pembelajaran mendalam perlu diterapkan agar peserta didik tidak berhenti pada kemampuan menghafal materi. Guru diharapkan mampu mendorong siswa memahami konsep, berpikir kritis, menerapkan pengetahuan, hingga mengaitkannya dengan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Kurikulum Berbasis Cinta diarahkan untuk membangun suasana belajar yang aman, nyaman, dan penuh perhatian tanpa mengabaikan kedisiplinan.
“Pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan dan membentuk karakter anak-anak kita,” demikian pesan Wali Kota dalam sambutan yang dibacakan Anwar Sadat.
Materi workshop juga membahas instrumen akreditasi madrasah. Pemahaman terhadap instrumen tersebut dinilai penting agar akreditasi tidak sekadar menjadi kewajiban administratif, tetapi menjadi bagian dari evaluasi untuk memperbaiki mutu pendidikan.
Ketua panitia, Sri Margini, menyebut workshop menghadirkan Pengawas Madrasah Kota Samarinda, Siti Zulaeha, sebagai pemateri.
Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Kota Bontang, Sultani, menilai peningkatan kompetensi guru perlu dilakukan secara berkelanjutan. Perubahan kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia pendidikan menuntut madrasah terus memperbaiki proses pembelajaran.
“Peningkatan kualitas pendidikan agama harus terus dilakukan, baik melalui penguatan kompetensi guru maupun peningkatan kualitas proses pembelajaran di madrasah,” ujarnya.
Melalui workshop tersebut, guru diharapkan dapat membawa hasil pembelajaran ke satuan pendidikan masing-masing, terutama dalam penerapan pembelajaran mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, serta pemahaman instrumen akreditasi.


