Luncurkan Inovasi Cantik, Neni Targetkan Kanaan Zero Stunting

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wali Kota Bontang, Neni Moernieni (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Wali Kota Bontang, Neni Moernieni (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Luncurkan Inovasi Cantik, Neni Targetkan Kanaan Zero Stunting

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wali Kota Bontang, Neni Moernieni (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Wali Kota Bontang, Neni Moernieni (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Luncurkan Inovasi Cantik, Neni Targetkan Kanaan Zero Stunting

Wali Kota Bontang, Neni Moernieni (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang memasang target ambisius untuk menuntaskan kasus stunting di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat.

Dari 21 kasus yang tercatat, pemerintah menargetkan seluruhnya dapat ditangani hingga mencapai zero stunting.

Target tersebut disampaikan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat meluncurkan program Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting) di Kelurahan Kanaan, Kamis (1/10/2026).

Neni mengatakan angka stunting di Kanaan relatif lebih rendah dibandingkan capaian kota.

Berdasarkan hasil penimbangan serentak terhadap 9.884 balita di Bontang, terdapat 1.389 anak atau 14,05 persen yang masuk kategori stunting. Sementara di Kanaan, tercatat 21 kasus atau 7,8 persen.

Menurut Neni, jumlah tersebut masih memungkinkan untuk ditekan hingga tidak ada lagi kasus stunting di wilayah tersebut.

“Kanaan ini wilayahnya kecil, penduduknya fluktuatif antara 3.000 sampai 5.000 jiwa. Dengan sisa 21 kasus stunting, masa kita tidak bisa selesaikan? Target kita di sini harus zero stunting,” tegasnya.

Untuk mencapai target tersebut, Neni meminta penanganan tidak berhenti pada pendataan maupun pemberian makanan tambahan.

Intervensi harus dilakukan secara langsung dengan mengetahui kondisi setiap keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.

Ia menekankan pentingnya peran Ketua RT dan kader sebagai pihak yang paling dekat dengan masyarakat.

Pemkot Bontang pun memberikan insentif untuk memperkuat fungsi tersebut. Ketua RT menerima Rp2 juta per bulan, sedangkan bendahara, sekretaris dan kader masing-masing memperoleh Rp1 juta.

“Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama,” ujarnya.

Neni juga mengingatkan bahwa stunting memiliki faktor penyebab yang kompleks. Selain pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pencegahan perlu dimulai sejak remaja melalui edukasi kesehatan reproduksi untuk mencegah kehamilan dini.

Faktor sanitasi dan lingkungan juga menjadi perhatian. Aparatur kelurahan diminta memastikan kebersihan lingkungan warga, termasuk kawasan peternakan yang berpotensi menjadi sumber penyakit infeksi kronis.

Di sisi lain, Neni meminta tenaga kesehatan lebih cermat dalam menetapkan status stunting. Menurutnya, anak dengan tubuh pendek tidak otomatis mengalami stunting, sebab faktor genetik dan postur orang tua juga perlu diperhatikan.

“Stunting itu pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek itu stunting. Lihat juga genetik atau postur orang tuanya,” jelasnya.

Program Inovasi Cantik akan dijalankan melalui masa intervensi selama 56 hari kerja. Pelaksanaannya melibatkan lintas sektor, termasuk pemerintah kelurahan, kader posyandu, RT, tenaga kesehatan dan pihak perusahaan.

Salah satunya PT Kaltim Parna Industri (KPI) yang turut mendukung program tersebut. Neni menilai keterlibatan dunia usaha diperlukan agar penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) bagi kader posyandu.