Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin
BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman banjir seiring memasuki periode musim hujan.
Selain mengandalkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, pemerintah juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengatakan upaya antisipasi banjir dilakukan melalui sejumlah program kebersihan lingkungan yang telah berjalan.
Salah satunya melalui Gerakan Sampah-Sampahku adalah Tanggung Jawabku (GESIT) yang digagas Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.
Menurut Agus, program tersebut telah berjalan sekitar satu tahun dengan melibatkan kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD), PKK, serta berbagai organisasi perempuan.
Kegiatan dilakukan secara rutin untuk membersihkan saluran air, baik parit kecil maupun parit besar.
“Program ASRI yang digagas Presiden Prabowo, dan program yang digagas oleh Wali Kota Bontang, GESIT, ini sudah berjalan. Lurah, semua dinas, DLH sudah menentukan setiap pekan untuk bersama-sama membersihkan parit kecil dan parit besar,” ujar Agus saat ditemui wartawan Pusaranmedia.com.
Selain menjaga kebersihan saluran air, Pemkot Bontang juga mengandalkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir.
Agus menyebut dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebesar sekitar Rp86 miliar turut diarahkan untuk pembangunan turap di sejumlah wilayah.
Meski demikian, Agus mengaku masih terdapat sejumlah titik yang menjadi perhatian pemerintah, salah satunya kawasan Kelurahan Api-Api, tepatnya di belakang Bank Danarta, Jalan Polo Air.
Menurutnya, wilayah tersebut memiliki debit air yang cukup besar ketika hujan turun. Kondisi itu diperparah dengan ketinggian tebing atau turap yang dinilai masih belum cukup untuk menahan luapan air.
“Itu kalau dilihat debit airnya sangat besar. Sementara tebingnya masih pendek. Saya waktu 17 Agustus kemarin diperlihatkan oleh forum RT di sana. Saya bilang, mudah-mudahan masih ada anggaran di akhir tahun ini. Nanti kita coba, dan ini sudah saya tinjau bersama PU,” jelasnya.
Agus menuturkan, kawasan tersebut sebelumnya memang kerap mengalami banjir. Pembangunan turap telah dilakukan sebagai salah satu upaya penanganan, namun menurutnya ketinggiannya masih perlu ditambah.
Ia memperkirakan diperlukan penambahan ketinggian tebing sekitar 50 sentimeter agar lebih mampu menahan debit air yang meningkat saat hujan deras.
“Wilayah itu dulu sering banjir. Sudah diturap, tetapi masih agak rendah. Sementara debit airnya masih tinggi. Mungkin kurang lebih 50 sentimeter harus ditinggikan tebingnya. Itu yang saya khawatirkan air bisa masuk,” ungkapnya.
Agus menegaskan, Pemkot Bontang akan terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang berpotensi mengalami genangan. Upaya tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko banjir, terutama ketika intensitas hujan meningkat.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta berperan menjaga saluran air tetap bersih dan tidak menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Pemerintah menilai pembersihan drainase secara rutin perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur agar sistem pengendalian banjir dapat berfungsi lebih optimal.


