PTMB Ungkap Keterbatasan Air Baku Penyebab Utama Distribusi Air Bersih tak Merata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Dirut PTMB, Yudhi Saharuddin (kiri) dan Direktur Teknik Mohamad Kohiruddin (kanan). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Dirut PTMB, Yudhi Saharuddin (kiri) dan Direktur Teknik Mohamad Kohiruddin (kanan). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

PTMB Ungkap Keterbatasan Air Baku Penyebab Utama Distribusi Air Bersih tak Merata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Dirut PTMB, Yudhi Saharuddin (kiri) dan Direktur Teknik Mohamad Kohiruddin (kanan). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Dirut PTMB, Yudhi Saharuddin (kiri) dan Direktur Teknik Mohamad Kohiruddin (kanan). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

PTMB Ungkap Keterbatasan Air Baku Penyebab Utama Distribusi Air Bersih tak Merata 

Dirut PTMB, Yudhi Saharuddin (kiri) dan Direktur Teknik Mohamad Kohiruddin (kanan). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mengungkap keterbatasan air baku menjadi faktor utama persoalan yang berdampak terhadap pemerataan distribusi air bersih kepada pelanggan.

Ini disampaikan Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin saat menghadiri demonstrasi dari Aliansi Balikpapan Bergerak di Balaikota, Kamis (1/10/2026).

Yudhi Saharuddin menjelaskan, kondisi air baku di Balikpapan menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. 

Terlebih, sumber air baku di Kota Minyak bergantung pada waduk yang mengandalkan curah hujan.

"Saat ini PDAM Kota Balikpapan kapasitas produksinya 1.550 liter per detik untuk normal. Dan harus melayani kurang lebih 900.000 penduduk Kota Balikpapan," kata Yudhi didampingi Direktur Teknik Mohamad Kohiruddin.

Menurutnya, kapasitas produksi air bersih Balikpapan juga masih lebih rendah dibandingkan Samarinda. 

Ia menyebut kapasitas produksi air bersih di Samarinda mencapai sekitar 3.500 liter per detik.

Kondisi tersebut semakin berdampak ketika terjadi fenomena El Nino. Yudhi mengatakan kapasitas produksi PTMB yang sebelumnya sekitar 1.150 liter per detik harus turun menjadi sekitar 900 liter per detik.

"Memang air baku kurang. Itu yang terjadi bukan hanya di Balikpapan saja. Balikpapan, PPU, Bontang, yang daerah-daerah atau wilayah-wilayah yang tidak dilewati oleh sungai pasti mengalami hal yang sama," ujarnya.

Penurunan kapasitas produksi tersebut, lanjut Yudhi, paling terasa pada wilayah yang berada di ujung jaringan pelayanan, terutama daerah dengan posisi yang lebih tinggi.

Untuk membantu masyarakat yang terdampak, PTMB telah menyiapkan sekitar empat hingga lima terminal tangki air. 

Selain itu, perusahaan juga telah mendistribusikan air bersih bersubsidi sekitar 7,29 juta liter selama kondisi El Nino.

"Kita berdoa sama-sama mudah-mudahan El Nino segera berakhir, karena air baku yang kita manfaatkan di Kota Balikpapan ini itu dari waduk tadah hujan. Kita tidak punya sungai, beda dengan Samarinda yang memiliki sungai cukup besar," jelasnya.

Yudhi mengatakan PTMB terus melakukan langkah cepat untuk membantu masyarakat yang terdampak keterbatasan air baku. 

Menurutnya, kondisi perusahaan saat ini masih memungkinkan untuk menangani persoalan tersebut.

"Alhamdulillahnya dengan kondisi begitu, Balikpapan ini perusahaannya masih sehat dan kondisi masih bisa kita atasi. Kami melakukan terus upaya untuk membantu masyarakat yang terdampak," katanya.

Selain persoalan air baku, Yudhi turut menjelaskan alasan belum masifnya pemasangan pipa induk untuk memperluas pelayanan air bersih.

Ia mengatakan pertumbuhan penduduk yang meningkat signifikan, sementara ketersediaan air baku masih terbatas, membuat pembangunan jaringan pipa harus mempertimbangkan kemampuan sumber air.

"Bagaimana kalau pipa induknya dipasang sementara sumber air bakunya masih kurang? Itu menjadi satu proyek yang nantinya tidak bisa juga dilaksanakan," jelasnya.

Menurut Yudhi, pembangunan jaringan perpipaan harus disesuaikan dengan kapasitas air baku yang tersedia. 

Hal itu agar penambahan jaringan tidak justru menimbulkan persoalan baru dalam pelayanan.

"Jadi kita harus melihat keseimbangan. Berapa sih air bakunya? Air baku hanya sekian, ini cocok untuk sekian ribu pelanggan. Kita tidak boleh langsung asal pasangkan saja sementara kita tidak mempertimbangkan berapa kemampuan dan kapasitas kita," pungkasnya.