Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Sekitar 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Berau mendapat kesempatan memperluas akses pembiayaan melalui kegiatan Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM (BIMA ETAM) Seri ke-7.
Kegiatan yang mempertemukan pelaku UMKM dengan lembaga pembiayaan tersebut digelar di Ruang RPJPD Bapelitbang Berau, Jumat (2/10/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mendapatkan dukungan permodalan sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, mengatakan keikutsertaan sekitar 100 UMKM menunjukkan besarnya kebutuhan pelaku usaha terhadap informasi dan akses pembiayaan.
Menurutnya, BIMA ETAM tidak hanya menjadi forum pertemuan antara UMKM dan lembaga keuangan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memahami berbagai skema pembiayaan yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas bisnis masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin pelaku UMKM mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai pembiayaan, sehingga ketika membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha, mereka sudah mengetahui pilihan dan mekanisme yang tersedia,” ujar Eva.
Eva menjelaskan, persoalan permodalan memang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi UMKM. Namun, akses pembiayaan harus diiringi dengan kemampuan mengelola keuangan dan mengembangkan produk agar modal yang diperoleh benar-benar dapat mendorong pertumbuhan usaha.
Karena itu, edukasi literasi keuangan menjadi bagian penting dalam BIMA ETAM. Pelaku UMKM didorong memahami cara mengatur arus kas, memisahkan keuangan usaha dan pribadi, serta merencanakan penggunaan modal secara tepat.
“UMKM tidak cukup hanya mendapatkan pembiayaan. Mereka juga harus memiliki kemampuan mengelola usaha agar pembiayaan tersebut bisa memberikan dampak terhadap perkembangan bisnis,” jelasnya.
Diskoperindag Berau pun mendorong para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi langsung dengan lembaga keuangan. Dengan demikian, pelaku UMKM dapat mengetahui persyaratan serta peluang pembiayaan yang sesuai dengan kondisi usaha mereka.
Selain pembiayaan, perkembangan sistem pembayaran juga menjadi perhatian. Pelaku UMKM di Berau didorong mulai beradaptasi dengan transaksi non-tunai dan digital, terutama karena Berau merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara.
Menurut Eva, kemampuan UMKM beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting agar usaha lokal tidak tertinggal dan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
Ia berharap, keikutsertaan sekitar 100 UMKM dalam BIMA ETAM Seri ke-7 dapat menghasilkan tindak lanjut konkret, baik dalam bentuk akses pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha maupun perluasan pemasaran.
“Harapannya setelah kegiatan ini ada UMKM yang bisa mendapatkan pembiayaan dan kemudian mengembangkan usahanya. Kami dari pemerintah daerah akan terus melakukan pendampingan,” pungkasnya. (Adv)



