Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN — Pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Nunukan masih menghadapi sejumlah kendala. Dari total 171 unit Kopdes yang direncanakan, baru 32 unit yang masuk dalam proses pembangunan, sementara yang telah mencapai progres 100 persen baru sembilan unit.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Nunukan, Helmi Pusdaalikar, mengatakan proses pembangunan Kopdes tidak berjalan serentak di seluruh wilayah. Kondisi geografis Nunukan sebagai daerah perbatasan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran pembangunan.
Menurut Helmi, kendala utama yang dihadapi di lapangan berkaitan dengan distribusi logistik, kondisi cuaca, serta ketersediaan tenaga kerja, khususnya tukang bangunan.
“Pembangunan ini memang menghadapi beberapa kendala. Distribusi logistik menjadi salah satu persoalan karena kondisi wilayah kita, kemudian faktor cuaca dan tenaga tukang,” ujar Helmi.
Ia menjelaskan, tenaga tukang yang digunakan dalam pembangunan sejumlah Kopdes di Nunukan berasal dari Pulau Jawa. Pengadaan tenaga kerja tersebut difasilitasi oleh pihak Korem Maharajalila untuk mendukung percepatan pembangunan.
Namun, mobilisasi tenaga tukang dari luar daerah juga menghadapi persoalan tersendiri. Sebagian pekerja tidak mampu bertahan lama di lokasi pembangunan sehingga memengaruhi kesinambungan pekerjaan di lapangan.
“Untuk tukang itu dari Jawa dan difasilitasi oleh Korem. Tetapi memang ada juga tukang yang tidak betah dan tidak bertahan, sehingga ini menjadi kendala dalam proses pembangunan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan di sejumlah lokasi harus menyesuaikan kembali dengan ketersediaan tenaga kerja. Ketika jumlah tukang berkurang, proses pengerjaan konstruksi ikut mengalami perlambatan.
Selain tenaga kerja, distribusi material bangunan juga menjadi tantangan. Karakteristik wilayah Nunukan yang terdiri atas kawasan daratan, kepulauan, hingga wilayah pedalaman membuat mobilisasi bahan bangunan membutuhkan pengaturan dan waktu lebih panjang.
Faktor cuaca turut memengaruhi proses tersebut. Kondisi cuaca yang tidak mendukung dapat menghambat pengiriman material maupun pekerjaan konstruksi di lapangan.
Helmi mengatakan, pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar pembangunan Kopdes dapat terus berjalan. Percepatan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi masing-masing lokasi, terutama yang menghadapi kendala tenaga kerja dan distribusi material.
“Yang jelas kami terus berkoordinasi supaya pembangunan ini tetap berjalan dan bisa diselesaikan. Kondisi di masing-masing wilayah berbeda, sehingga penanganannya juga harus menyesuaikan,” katanya.
Program Kopdes Merah Putih sendiri menjadi bagian dari kebijakan penguatan ekonomi masyarakat desa. Di Kabupaten Nunukan, sebanyak 171 koperasi telah terbentuk, meskipun pembangunan fisiknya dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, DPMD Nunukan menyebut pembentukan 171 koperasi tersebut mencakup desa dan kelurahan di wilayah Nunukan.
Dengan masih terbatasnya jumlah bangunan yang selesai, pemerintah daerah kini menghadapi pekerjaan lanjutan untuk memastikan pembangunan fisik dapat dituntaskan sekaligus mendukung kesiapan koperasi agar nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat.
Helmi menegaskan bahwa pembangunan fisik menjadi salah satu tahapan penting sebelum Kopdes dapat menjalankan fungsi ekonominya secara optimal di tingkat desa.
“Harapannya pembangunan yang masih berproses ini bisa terus dikejar. Setelah bangunannya selesai, tentu kita ingin koperasi ini benar-benar bisa dimanfaatkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat desa,” pungkasnya.


