Oleh: Achmad Fadillah (Reporter Pusaranmedia.com)
SETIAP kali 2 Oktober datang, perhatian kita kembali tertuju pada batik.
Hari Batik Nasional tahun ini mengusung tema "Batik Berlayar". Tema tersebut membawa semangat agar batik terus bergerak, berkembang dan menjangkau ruang yang lebih luas, tanpa kehilangan identitasnya.
Puncak peringatannya digelar di Surabaya, bersamaan dengan rangkaian kegiatan yang menyoroti kreativitas, inovasi dan keberagaman batik Indonesia.
Namun ketika melihat kembali peringatan Hari Batik tahun ini, maka saya justru teringat pada sebuah percakapan yang pernah saya lakukan dengan pelaku UMKM di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim).
Namanya Batik Buen Were. Saya pernah menulis kisahnya ketika mendapat kesempatan menyusun tulisan untuk sebuah buku yang berkaitan dengan perjalanan UMKM binaan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan. Saat itu, saya tidak hanya menemukan cerita tentang kain bermotif khas daerah.
Saya menemukan cerita tentang bagaimana sebuah daerah berusaha mengenali dirinya sendiri melalui selembar kain.
Buen Were dalam bahasa Paser berarti "Nasib Baik". Nama tersebut terasa seperti doa. Tetapi setelah mendengar perjalanan Rusnawati dan putrinya, Nuhraini Palipung atau Ira, saya melihat bahwa "nasib baik" yang mereka maksud bukan sesuatu yang datang begitu saja.
Ia dikerjakan, dipelajari dan diwariskan. Kisahnya itu berawal pada 5 Januari 2019, Rusnawati yang merupakan Pamong Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Paser mulai merintis Batik Buen Were.
Lahirnya batik itu melalui keresahan sederhananya yang sangat penting, yaitu Paser memiliki sejarah dan kekayaan budaya, tetapi belum memiliki batik dengan motif khas yang benar-benar merepresentasikan identitas daerah.
"Saya merambah kepada ornamen. Ornamen ini 'kan bisa digores di bangunan, bisa digores di kayu, dan bisa digores di kain. Saya pilih ke kain, karena selama ini belum dikenal sama sekali ornamen Paser itu. Nah, seperti itu awal mulanya," kenang Rusnawati.
Bersama Ira, ia belajar membatik secara otodidak. Mereka bahkan harus mencari ilmu hingga keluar Kalimantan.
Modal awalnya hanya sekitar Rp5 juta yang disisihkan dari gaji Rusnawati. Bukan modal besar. Bukan pula bisnis yang sejak awal dirancang untuk mengejar omzet.
Ira pernah mengatakan kepada saya, tujuan awal mereka hanya ingin agar Paser memiliki batik dengan motif khas sendiri. Sebuah identitas yang bisa dibawa ketika keluar daerah.
Yang menarik dari Batik Buen Were bukan hanya perjalanan bisnisnya. Tetapi cerita yang dibawa setiap motif.
Rusnawati melakukan riset bersama tokoh adat untuk menggali ornamen dan nilai budaya Paser. Motif seperti Lempinak, Kombat, Serembolum hingga Kemilau Bulau Pinakael kemudian hadir di atas kain.
Motif-motif itu tidak dibuat semata-mata agar kain terlihat indah. Ada sejarah, alam, simbol dan memori masyarakat Paser di dalamnya. Hingga kini, Buen Were telah mengembangkan sekitar 60 motif.
Kain tersebut kemudian berkembang menjadi kemeja, kaos, tas, songkok dan berbagai produk lainnya.
Di titik ini saya merasa batik memang tidak pernah benar-benar hanya soal pakaian. Ia adalah cara sebuah daerah bercerita tentang dirinya. Dan setiap daerah memiliki ceritanya sendiri.
Tema "Batik Berlayar" pada Hari Batik Nasional 2026 terasa menarik jika dikaitkan dengan perjalanan Buen Were. Batik memang harus berlayar. Seperti perjalanan dari Kota Minyak menuju Tana Paser, harus menyebrangi Teluk Balikpapan.
Ibarat kapal berlayar, ia tidak boleh berhenti sebagai kain yang hanya tersimpan di lemari, dipakai pada acara resmi, lalu kembali dilipat.
Batik harus bergerak mengikuti zaman. Tetapi pertanyaannya: ketika batik bergerak semakin jauh, siapa yang akan menjaga tangan yang membuatnya?
Pertanyaan tersebut terasa relevan dengan kondisi industri batik saat ini. Kementerian Perindustrian menyoroti persoalan regenerasi perajin. Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), jumlah perajin batik pada periode 2019-2023 disebut menurun sekitar 20 persen, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu perajin.
Dan ternyata, persoalan itu bukan sesuatu yang jauh dari cerita Buen Were. Di rumah produksi mereka, regenerasi perajin juga menjadi tantangan.
Saat awal berdiri, Rusnawati memiliki lima pengrajin tetap. Seiring waktu, jumlah tersebut berkurang. Salah seorang meninggal dunia, sementara seorang lainnya mengalami masalah kesehatan.
Kini, tersisa tiga pengrajin utama. Anak-anak muda juga tidak mudah diajak bertahan dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kesabaran dan ketekunan.
Dari beberapa anak muda yang pernah bergabung, sebagian memilih berhenti. Di sinilah makna pelestarian batik terasa lebih dalam.
Melestarikan batik ternyata bukan hanya mengajak orang mengenakan batik pada 2 Oktober. Ada pekerjaan yang jauh lebih panjang, yakni memastikan ada orang yang masih mau belajar membuatnya.
Buen Were kemudian mencoba mencari jalan agar tradisi tidak berhenti pada nostalgia. Mereka mengikuti berbagai pelatihan, pameran dan pengembangan pemasaran. Dukungan dari Bank Indonesia juga membuka akses ke berbagai kegiatan, termasuk ISEF, IN2MF, PESAN hingga Mahligai Nusantara.
Mereka mulai mengenal pengelolaan usaha, pemasaran digital dan sistem pembayaran seperti QRIS. Produk pun didorong untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Pada 2025, Batik Buen Were mencatat omzet kotor sekitar Rp150 juta. Volume penjualan juga disebut meningkat sekitar 50 hingga 60 persen.
Angka itu tentu penting. Tetapi bagi saya, angka tersebut bukan akhir dari ceritanya.
Sebab keberhasilan sebuah batik daerah tidak semata-mata diukur dari berapa rupiah yang dihasilkan.
Ada pertanyaan yang lebih panjang. Apakah motifnya masih dikenali?, Apakah perajinnya masih ada?, Apakah generasi berikutnya masih mau membuatnya?
Dan yang paling penting, apakah nilai budaya yang ada di balik motif tersebut masih dipahami?
Mungkin itu sebabnya saya teringat kembali pada Batik Buen Were ketika Hari Batik Nasional tiba.
Saya teringat pada Rusnawati yang memulai dari keresahan. Terhadap sebuah daerah yang menurutnya memiliki kekayaan budaya, tetapi belum memiliki identitas visual yang kuat dalam bentuk batik.
Saya teringat Ira yang ikut membawa usaha tersebut berkembang. Dan saya teringat pada nama Buen Were. "Nasib Baik".
Kini, setelah beberapa tahun berlalu sejak percakapan itu, nama tersebut terasa semakin relevan. Nasib baik ternyata bukan tentang menunggu sesuatu datang.
Ia tentang orang-orang yang mau memulai dari Rp5 juta, belajar dari nol, mencari pengetahuan, merawat motif, mengajak generasi muda, lalu mencoba membawa karya lokal berlayar lebih jauh.
Tema "Batik Berlayar" tahun ini mungkin memang bicara tentang bagaimana batik bergerak menuju masa depan.
Tetapi dari Paser, ada satu pesan yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu Batik boleh berlayar sejauh mungkin, tetapi jangan sampai kehilangan pelabuhan tempat ia berasal.
Karena di setiap motif yang dibawa keluar daerah, selalu ada tanah kelahiran, cerita leluhur dan tangan perajin yang membuatnya.
Dan mungkin, itulah cara paling sederhana untuk memahami Hari Batik Nasional. Bukan sekadar memakai batik. Tetapi mengenal cerita di baliknya, menghargai orang yang membuatnya, dan memastikan cerita itu masih bisa ditenun oleh generasi berikutnya.


