Banner ADV

Tenun Sukan Tengah Terancam Kehilangan Penerus, Pemuda Jadi Kunci

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Tenun Sukan Tengah Terancam Kehilangan Penerus, Pemuda Jadi Kunci

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Tenun Sukan Tengah Terancam Kehilangan Penerus, Pemuda Jadi Kunci

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Kain tenun ikat Sukan Tengah sebenarnya memiliki modal kuat untuk berkembang. Produk kerajinan dari Kampung Sukan Tengah, Kecamatan Sambaliung itu tidak kesulitan mencari pembeli. 
Persoalannya justru berada di balik proses produksi. Semakin sedikit generasi muda yang bersedia meneruskan keterampilan menenun.

Kondisi tersebut membuat keberlangsungan sentra tenun di kampung tersebut mulai menghadapi tantangan serius. Keahlian membuat tenun ikat masih banyak bertumpu pada perajin berusia lanjut, sementara proses mencetak penerus belum berjalan sesuai harapan.

Kepala Kampung Sukan Tengah, Bunyamin mengatakan kemampuan menenun saat ini masih dikuasai warga yang telah berusia sekitar 60 hingga 70 tahun.

Situasi itu dinilai menjadi pekerjaan rumah apabila tenun ikat ingin dikembangkan sebagai salah satu sumber ekonomi kampung dalam jangka panjang.

Menurutnya, persoalannya bukan terletak pada pemasaran. Hasil tenun yang diproduksi justru memiliki daya tarik tersendiri dan relatif mudah terserap pasar.

“Apa yang perlu kami pikirkan sekarang adalah siapa yang akan melanjutkan keterampilan ini. Kalau tidak segera ada penerus, kemampuan yang dimiliki para penenun sekarang bisa ikut hilang,” ujar Bunyamin.

Upaya mengenalkan keterampilan tersebut kepada warga usia produktif sebenarnya telah dilakukan. Namun, prosesnya membutuhkan waktu karena menenun bukan keterampilan yang bisa dikuasai hanya dalam beberapa kali pelatihan.

Bunyamin menilai salah satu cara menjaga keberlanjutan proses belajar adalah memberikan dorongan ekonomi kepada calon penenun muda. Insentif selama masa belajar dinilai dapat membuat mereka lebih serius menekuni keterampilan tersebut hingga mampu menghasilkan produk secara mandiri.

Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah selama ini telah diberikan melalui bantuan bahan baku maupun pelatihan. Tapi, tantangan berikutnya adalah memastikan peserta tetap melanjutkan praktik setelah program pendampingan selesai.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau. 
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan pengembangan tenun Sukan Tengah tidak cukup hanya dengan bantuan produksi, tetapi juga membutuhkan sistem pengelolaan yang mampu menjaga keberlangsungan perajin.

Salah satu opsi yang tengah dipersiapkan adalah penguatan kelembagaan Sentra Tenun Sukan Tengah melalui pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

Dengan kelembagaan yang lebih kuat, pembinaan perajin muda diharapkan tidak berhenti sebatas pelatihan. Pengelolaan produksi, dukungan anggaran, hingga pengembangan pasar dapat disusun dalam pola yang lebih berkelanjutan.

Eva menyebut keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam rencana tersebut. Mereka diharapkan tidak sekadar belajar membuat kain, tetapi dapat melihat aktivitas menenun sebagai peluang pekerjaan dan sumber penghasilan.

“Targetnya bukan hanya melahirkan penenun baru, tetapi membangun ekosistem agar mereka punya alasan untuk bertahan dan berkembang di bidang ini,” katanya.

Jika regenerasi berhasil dibangun, tenun ikat Sukan Tengah tidak hanya bertahan sebagai produk budaya. Kerajinan tersebut berpeluang tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif kampung yang dikelola oleh generasi baru. (Adv)