Program Pentas Kutim Diklaim Turunkan Stunting Jadi 12,86 Persen

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Flayer cegah Stunting. (Foto: Dok Kemenkes RI)
Flayer cegah Stunting. (Foto: Dok Kemenkes RI)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Program Pentas Kutim Diklaim Turunkan Stunting Jadi 12,86 Persen

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Flayer cegah Stunting. (Foto: Dok Kemenkes RI)
Flayer cegah Stunting. (Foto: Dok Kemenkes RI)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Program Pentas Kutim Diklaim Turunkan Stunting Jadi 12,86 Persen

Flayer cegah Stunting. (Foto: Dok Kemenkes RI)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan

SANGATTA – Prevalensi stunting di Kabupaten Kutim tercatat 12,86 persen setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) menjalankan program Pelayanan Terpadu dan Serentak untuk Menuntaskan Stunting (Pentas) Kutim.

Program yang diluncurkan pada Juli 2026 tersebut dilakukan melalui penimbangan balita secara serentak di puskesmas, fasilitas kesehatan, dan sekolah.

Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, Pentas Kutim merupakan proyek perubahan yang dijalankannya dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) tingkat II.

Menurutnya, hasil penimbangan balita kemudian ditarik secara daring ke Kementerian Kesehatan pada 31 Agustus 2026.

“Jadi di 31 Agustus kemarin sudah kita lakukan penarikan data, itu yang langsung online di Kemenkes. Jadi angka stunting kita alhamdulillah sudah turun banyak,” kata Yuwana.

Berdasarkan data tersebut, prevalensi stunting Kutim tercatat 12,86 persen. Angka itu turun dibandingkan 16 persen saat Pentas Kutim mulai dicanangkan pada Juli 2026.

Selain penurunan prevalensi, partisipasi orang tua dalam membawa balita untuk dilakukan penimbangan juga meningkat. 

Data Pengukuran Rutin Stunting (DPRS) tercatat 54,91 persen, dibandingkan sebelumnya yang berada di angka 34 persen.

“Target kita sebenarnya target nasional kan 14 persen. Ini sudah tercapai, sudah 12 persen,” ujarnya.

Yuwana menuturkan, intervensi penanganan stunting juga dilakukan sejak masa kehamilan, khususnya terhadap ibu hamil yang mengalami anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK).

“Untuk ibu hamil dengan anemia, ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, ini kan yang nantinya akan melahirkan bayi-bayi berisiko stunting. Itu juga sudah kita lakukan intervensi sehingga angkanya juga sudah turun,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes Kutim menjalankan Gerakan Minum Susu dan makan buah bagi anak-anak sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

Yuwana menegaskan angka 12,86 persen tersebut tercantum dalam dashboard Kementerian Kesehatan. 

Dengan capaian tersebut, prevalensi stunting Kutim berada di bawah target nasional sebesar 14 persen.