Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada September 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan inflasi tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,15 persen.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi sumber utama inflasi Balikpapan pada September 2026," ucap Robi dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).
Sejumlah komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar yakni cabai rawit, kangkung, tomat, tas sekolah, dan jagung manis.
Kenaikan harga cabai rawit, tomat, dan jagung manis dipengaruhi menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi, khususnya Jawa Timur (Jatim) dan Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kondisi tersebut terjadi akibat cuaca kemarau yang memengaruhi produksi, sementara permintaan masih tetap kuat.
Sementara itu, harga kangkung meningkat karena berkurangnya pasokan dari petani lokal di Balikpapan dan sekitarnya akibat kondisi cuaca kemarau.
Selain komoditas pangan, tas sekolah turut menjadi penyumbang inflasi setelah produsen mengompensasi kenaikan biaya produksi melalui harga jual.
Kondisi tersebut terjadi di tengah dampak lanjutan meningkatnya permintaan pada tahun ajaran baru.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi Balikpapan. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Komoditas yang mencatat penurunan harga antara lain ikan layang, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, dan udang basah.
Secara tahunan, inflasi Balikpapan pada September 2026 tercatat sebesar 3,93 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan gabungan empat kota di Kalimantan Timur (Kaltim) sebesar 3,98 persen, namun berada di atas inflasi nasional sebesar 3,28 persen.
Sementara secara tahun kalender Januari hingga September 2026, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,55 persen.
Realisasi tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.
BI Balikpapan menyebut risiko tekanan inflasi masih perlu diantisipasi, terutama akibat peningkatan risiko El Nino dan kekeringan yang dapat memengaruhi produksi serta pasokan pangan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena Balikpapan masih bergantung pada pasokan pangan dari luar Kaltim, sementara produktivitas pangan lokal masih terbatas.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah, termasuk Gerakan Pangan Murah, Pasar Murah, Operasi Pasar, pemantauan harga, serta penguatan kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi.
Sepanjang Januari hingga September 2026, TPID Kota Balikpapan telah melaksanakan 104 kali Gerakan Pangan Murah, termasuk 10 kali pada September 2026.


