Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - PLTU Teluk Balikpapan menjadi salah satu yang berkontribusi terhadap pasokan listrik dalam Sistem Kelistrikan Mahakam yang terhubung dengan sistem kelistrikan Kalimantan.
Dalam kunjungan ke Unit Pembangkit (UP) Kalimantan Timur (Kaltim) Teluk, Senin (5/10/2026), terlihat sejumlah teknisi masih melakukan pekerjaan pemeliharaan pada Unit 1 atau turbin uap (steam turbine).
PLTU Kaltim Teluk memiliki kapasitas 220 Megawatt (MW), yang terdiri dari dua unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 110 MW.
Kapasitas tersebut menjadi bagian dari pasokan pembangkit yang mendukung kebutuhan listrik dalam sistem yang terkoneksi.
Listrik yang dihasilkan PLTU Kaltim Teluk kemudian dialirkan melalui gardu induk untuk menaikkan tegangan sebelum disalurkan ke jaringan Sistem Kelistrikan Mahakam dan sistem interkoneksi yang terhubung di Kalimantan.
Secara proses, PLTU menggunakan batu bara sebagai bahan bakar untuk memanaskan air di dalam boiler hingga menghasilkan uap bertekanan tinggi.
Uap tersebut kemudian diarahkan ke bilah-bilah turbin sehingga menghasilkan energi mekanik berupa putaran poros.
Putaran turbin selanjutnya menggerakkan generator untuk menghasilkan energi listrik.
Setelah melewati turbin, uap dialirkan menuju kondensor untuk didinginkan hingga kembali menjadi air dan kemudian dipompa kembali ke boiler untuk digunakan dalam proses berikutnya.
Dengan kapasitas 220 MW tersebut, keberadaan PLTU Kaltim Teluk berperan dalam menjaga kecukupan pasokan dan keandalan sistem, terutama ketika kebutuhan listrik meningkat pada saat beban puncak.
Namun, saat ini Unit 1 PLTU Kaltim Teluk sedang menjalani pemeliharaan atau overhaul yang telah direncanakan.
Sementara Unit 2 yang sebelumnya mengalami gangguan telah selesai diperbaiki dan kembali mendukung sistem kelistrikan.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Hukum PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimra), Muchamad Meiryandi mengatakan sistem kelistrikan Kalimantan dalam beberapa hari terakhir mengalami dinamika operasi akibat gangguan dan pekerjaan pemeliharaan pada sejumlah pembangkit.
"Kondisi tersebut akhirnya berdampak pada ketersediaan kapasitas pembangkit yang belum sepenuhnya optimal, khususnya pada saat beban listrik pada kondisi beban puncak," kata Meiryandi.
Ia menegaskan kondisi tersebut tidak disebabkan oleh satu pembangkit saja. Menurutnya, kinerja sistem merupakan hasil dari keseluruhan pembangkit yang beroperasi dan terhubung dalam satu sistem.
Untuk menjaga keandalan sistem, PLN bersama PLN Nusantara Power melakukan percepatan pemeliharaan Unit 1 PLTU Kaltim Teluk.
Sekitar 600 tenaga kerja dari sejumlah wilayah, termasuk Jawa dan Sumatra, dikerahkan untuk mempercepat pekerjaan tersebut.
"PLN berusaha untuk menyelesaikan lebih cepat daripada jadwal. Pekerjaan ini tidak bisa diburu-buru, harus presisi supaya keandalan mesin Unit 1 ini bisa terjaga sehingga bisa memenuhi pasokan untuk sistem yang terkoneksi Kalimantan," ujarnya.
Selain percepatan pemeliharaan, PLN juga menyiapkan tambahan kapasitas melalui pembangkit sewa. Tahap pertama mencapai 158 MW, dengan 20 MW telah beroperasi di Pembangkit Trisakti dan 10 MW di Pembangkit Batulicin. Sementara kapasitas lainnya akan masuk secara bertahap.
Selanjutnya, PLN merencanakan tambahan 125 MW pada tahap kedua. Secara keseluruhan, tambahan pembangkit sewa yang disiapkan mencapai sekitar 278 MW untuk memperkuat sistem interkoneksi di Kalimantan.
Keberadaan PLTU Kaltim Teluk dengan kapasitas 220 MW tersebut menjadi bagian penting dari bauran pembangkit yang digunakan PLN untuk menjaga pasokan listrik tetap tersedia dan sistem kelistrikan tetap andal.


