Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - PLTU Teluk Balikpapan masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik di tengah dorongan transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT).
PLN menyebut peralihan energi tersebut dilakukan secara bertahap dan tidak bisa dilakukan sekaligus.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Hukum PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimra), Muchamad Meiryandi mengatakan sistem kelistrikan saat ini masih ditopang beragam jenis pembangkit, mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), hingga pembangkit berbahan bakar gas.
"Transisi energi ini memang dilakukan secara bertahap. Karena kita tahu sendiri pembangkit-pembangkit yang ada bukan cuma di Kalimantan, di seluruh Indonesia juga beraneka ragam," kata Meiryandi.
Menurutnya, PLN terus mendukung proses transisi energi dengan menambah pembangkit EBT, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan PLTA.
Namun, proses tersebut membutuhkan tahapan dan upaya karena harus mempertimbangkan kondisi sistem kelistrikan yang ada.
Salah satu langkah yang telah dilakukan yakni menerapkan co-firing atau penggunaan biomassa bersama batu bara sebagai bahan bakar pembangkit pada PLTU. Biomassa yang digunakan dapat berasal dari bahan organik, termasuk olahan sampah.
"PLTU juga kami co-firing 'kan dengan biomassa yang berasal dari sampah. Di samping paralel kami juga menambah adanya PLTS-PLTS, tenaga surya, supaya energi terbarukan itu semakin cepat transisinya," ujarnya.
Meiryandi menegaskan transisi energi tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan kesiapan pembangkit dan sistem kelistrikan.
"Tidak bisa dilakukan dalam jentikan tangan. Jadi harus dilakukan secara bertahap," katanya.
Pengembangan EBT tersebut juga telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
Untuk wilayah Kalimantan, PLN merencanakan tambahan pembangkit EBT dalam periode 2025-2030 dengan kapasitas sekitar 1,5 Gigawatt (GW).
Selain itu, sejumlah pembangkit EBT telah dikembangkan di Kalimantan Timur (Kaltim).
Salah satunya PLTS di Ibu Kota Nusantara (IKN) berkapasitas 50 Megawatt peak (MWp), yakni kapasitas maksimum yang dapat dihasilkan panel surya dalam kondisi tertentu, yang telah beroperasi dan dilengkapi sistem baterai.
PLN juga mengembangkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batu Kelau di Kabupaten Mahakam Ulu dengan kapasitas sekitar 300 MW.
Pembangkit tersebut telah melalui tahap peletakan batu pertama dan saat ini berproses dalam pembangunan.
"Program PLN itu sudah di-include di RUPTL. RUPTL itu tiap tahun di-update. Jadi yang saat ini masih aktif dan menjadi acuan adalah RUPTL yang sudah disahkan pemerintah," ujar Meiryandi.
Dengan demikian, penggunaan batu bara pada PLTU Teluk masih menjadi bagian dari sistem kelistrikan Kalimantan saat ini, sementara PLN secara bertahap menambah porsi energi terbarukan melalui pengembangan PLTS, PLTA dan pemanfaatan biomassa.


