Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Portal Terpadu Digital Kutim telah mencatat lebih dari 8.000 akses sejak diluncurkan sekitar dua bulan lalu.
Capaian itu melampaui target awal Dinas Komunikasi dan Informatika Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim yang mematok 5.000 akses dalam tiga bulan.
Portal tersebut menjadi wadah untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi layanan milik Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sebelumnya berjalan pada platform masing-masing.
Hingga kini, sebanyak 15 aplikasi dari 10 OPD telah terhimpun dalam portal tersebut. Integrasi itu mencakup layanan informasi, data, pelayanan masyarakat hingga sejumlah aplikasi sektoral milik pemerintah daerah.
Kepala Diskominfo Staper Kutim, Ronny Bonar Hamonangan Siburian mengatakan integrasi dilakukan agar masyarakat tidak perlu mengakses berbagai platform secara terpisah ketika membutuhkan layanan pemerintah.
“Selama ini ‘kan punya Siap Kawal, punya Disdukcapil, yang ini masing-masing punya. Bingung kan ini yang mana-mana. Tapi dengan terpadu dia buka, cek semuanya itu terkumpul jadi satu,” katanya.
Lima belas aplikasi yang telah terhimpun yakni CCTV Kutim, Dokumen, E-STDB, Poktanbun, PPID, Rumah Survey, Satu Data Kutai Timur, SIAP Irigasi Kutim, SIAP Kawal, SIEKTA, SIGAP, Sikarang, Simdatris, UMKMKOP dan SIPETA PSU.
Ronny menegaskan, capaian lebih dari 8.000 akses tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan target penggunaan portal. Dalam jangka menengah, pihaknya menargetkan 25.000 akses.
Sementara untuk jangka panjang, target penggunaan portal tersebut diproyeksikan mencapai 50.000 akses dalam satu hingga dua tahun.
Selain mengintegrasikan aplikasi, portal tersebut juga menyediakan repository pengetahuan dan repository akademi atau Learning Management System (LMS).
Menurut Ronny, LMS dapat digunakan untuk menempatkan materi pembelajaran dan Bimbingan Teknis (Bimtek), sehingga materi tetap dapat diakses oleh peserta yang tidak mengikuti kegiatan secara langsung.
“Modulnya nanti bisa dilekatkan di sini sehingga nanti yang belum ikut bisa ikut di situ kalau saatnya tidak ada pembiayaannya. Itu kita membantu untuk efisiensi sehingga tidak jadi pemborosan,” jelasnya.
Ia menyebut pengembangan portal tersebut merupakan bagian dari proyek perubahan yang dikerjakannya dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN) II.
Ronny menilai, transformasi digital tidak selalu harus dilakukan dengan membangun sistem baru.
Menurutnya, pemanfaatan sistem yang sudah tersedia dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan pelayanan tanpa membutuhkan anggaran besar.
“Kalau kita tidak memulai kapan? Perubahan itu tidak harus baru dan tidak harus membuat. Bagi yang saya lakukan adalah bagaimana kita memanfaatkan kondisi yang ada tanpa membutuhkan biaya yang besar sehingga masyarakat bisa menggunakan atau memanfaatkan sebuah transformasi digital itu secara maksimal,” pungkasnya.


