Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Keindahan bawah laut Pulau Maratua bukan sekadar daya tarik wisata, tetapi juga menjadi bagian penting dari sumber penghidupan masyarakat.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Berau mulai memperkuat langkah pencegahan terhadap aktivitas yang berpotensi mengganggu ekosistem perairan, termasuk penggunaan speargun atau panah ikan.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid mengatakan perlindungan kawasan laut tidak cukup hanya dilakukan melalui pengawasan. Pemahaman masyarakat, nelayan, pelaku usaha wisata hingga wisatawan juga perlu diperkuat agar setiap aktivitas di laut tetap memperhatikan keberlangsungan biota dan habitatnya.
Menurut dia, Maratua memiliki ekosistem yang menjadi modal utama pengembangan pariwisata bahari Berau. Terumbu karang, ikan dan berbagai biota laut lainnya merupakan aset yang jika mengalami kerusakan akan membutuhkan waktu panjang untuk pulih.
Untuk itu, Diskan Berau memilih memperluas pendekatan edukasi dengan melibatkan sejumlah pihak yang bersentuhan langsung dengan aktivitas wisata dan perairan.
“Kami ingin setiap orang yang beraktivitas di Maratua memahami batas-batas yang harus dijaga. Bukan hanya soal alat yang digunakan, tetapi juga dampak dari aktivitas tersebut terhadap lingkungan laut,” katanya.
Ia menyebut pengelola resort memiliki posisi strategis dalam upaya tersebut. Sebab, informasi mengenai aturan dan perilaku yang ramah lingkungan dapat disampaikan kepada wisatawan sejak mereka tiba di kawasan wisata.
Dengan pola itu, wisatawan tidak hanya datang menikmati keindahan laut, tetapi juga mengetahui aktivitas apa saja yang sebaiknya dihindari agar tidak memberikan tekanan terhadap ekosistem.
Diskan Berau juga meneruskan arahan perlindungan lingkungan kepada jajaran di tingkat kecamatan. Koordinasi lintas perangkat daerah dan sektor pariwisata terus didorong agar upaya menjaga perairan Maratua tidak berhenti pada imbauan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Abdul Majid menilai keberadaan ekosistem laut yang sehat akan menentukan masa depan pariwisata Maratua. Kerusakan habitat ikan dan terumbu karang berpotensi menurunkan daya tarik wisata sekaligus memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada laut.
“Pariwisata dan kelestarian laut tidak bisa dipisahkan. Kalau lingkungannya terjaga, wisatawan punya alasan untuk terus datang dan masyarakat juga tetap memiliki sumber penghidupan,” ujarnya.
Ke depan, Diskan Berau akan melanjutkan koordinasi dengan pihak terkait untuk memperkuat sosialisasi dan pengawasan di kawasan perairan Maratua.
Pemerintah berharap keterlibatan bersama dapat mencegah aktivitas yang berisiko merusak ekosistem sekaligus menjaga Maratua tetap menjadi salah satu destinasi unggulan wisata bahari Berau. (Adv)



