Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) namun kondisi tersebut belum sepenuhnya mengakhiri ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kondisi lahan masih cepat mengering akibat tingginya intensitas matahari dan angin, sementara aktivitas pembakaran oleh masyarakat masih ditemukan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan curah hujan yang mulai terjadi belum cukup untuk menghilangkan kondisi kering di lapangan.
“Sudah ada hujan, tetapi kekeringannya masih. Intensitas mataharinya juga cukup tinggi, kemudian anginnya juga banyak. Kalau misalnya ada hujan, cepat menguap,” kata Buyung, Selasa (6/10/2026).
Kondisi tersebut membuat lahan kembali cepat kering sehingga potensi kebakaran masih perlu diwaspadai. Terlebih, menurut Buyung, aktivitas pembakaran oleh masyarakat juga masih menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya kebakaran.
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kaltim hingga 5 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.964 kejadian Karhutla dengan total area terdampak mencapai 7.952,60 hektare yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Kutai Kartanegara menjadi wilayah dengan luasan terdampak terbesar, yakni 2.483,24 hektare dari 346 kejadian. Disusul Paser dengan 1.412,11 hektare dari 495 kejadian dan Kutai Barat 1.268,58 hektare dari 191 kejadian.
Sementara Kabupaten Berau mencatat luasan Karhutla mencapai 1.008,55 hektare dari 241 kejadian.
Berdasarkan jenis area, lahan non-hutan menjadi wilayah yang paling banyak terdampak dengan luasan 6.187,90 hektare. Kemudian kawasan hutan seluas 1.726,20 hektare dan area perkebunan 38,50 hektare.
Kondisi Karhutla juga masih berlangsung pada Oktober. Hingga 5 Oktober, BPBD mencatat 114 kejadian dengan total luasan terdampak mencapai 254,07 hektare.
Dalam tiga hari, tercatat 28 kejadian pada 3 Oktober, 30 kejadian pada 4 Oktober, dan lima kejadian pada 5 Oktober. Seluruh area yang terbakar pada Oktober tersebut merupakan lahan.
BPBD Kaltim bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan di lapangan. Buyung berharap masyarakat ikut mencegah terjadinya kebakaran dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuang sampah sembarangan yang berpotensi memicu api.
“Perilaku pembakarnya juga enggak berhenti-berhenti,” ujarnya.


