Banner ADV

Rumput Laut Berau Kembali Dibidik, Kebun Bibit Disiapkan untuk Jaga Pasokan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Proses pengeringan rumput laut. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Proses pengeringan rumput laut. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Rumput Laut Berau Kembali Dibidik, Kebun Bibit Disiapkan untuk Jaga Pasokan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Proses pengeringan rumput laut. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Proses pengeringan rumput laut. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Rumput Laut Berau Kembali Dibidik, Kebun Bibit Disiapkan untuk Jaga Pasokan

Proses pengeringan rumput laut. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Rumput laut kembali masuk dalam radar pengembangan komoditas perikanan Kabupaten Berau. 

Setelah sempat berjaya di sejumlah kawasan pesisir pada era 2000-an, komoditas ini kini coba dikembangkan dengan pola yang lebih terarah, salah satunya melalui rencana pembangunan kebun bibit.

Dinas Perikanan (Diskan) Berau melihat ketersediaan bibit sebagai salah satu kunci agar budidaya rumput laut tidak berhenti pada tahap percobaan. Penguatan dari sisi pembibitan dinilai penting untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus memberi kepastian bagi pembudi daya.

Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih, menyebut pengembangan kebun bibit menjadi salah satu gagasan yang muncul setelah pihaknya mengirim pembudi daya mengikuti pelatihan teknis di Jepara pada awal September.

Pelatihan tersebut diikuti lima pembudi daya dan seorang pendamping. Pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan itu selanjutnya diharapkan dapat diterapkan dalam pengembangan budidaya rumput laut di Berau, khususnya di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya kegiatan budidayanya, tetapi juga sistem pendukungnya. Salah satunya bagaimana pembudi daya bisa mendapatkan bibit yang baik secara berkelanjutan,” kata Yunda.

Menurut dia, rencana kebun bibit tidak mudah direalisasikan jika hanya mengandalkan anggaran dan kewenangan pemerintah daerah. Sebab, pengembangan rumput laut bersinggungan dengan wilayah pesisir dan laut yang memiliki aturan serta pembagian kewenangan tersendiri.

Untuk itu, Diskan Berau mulai melihat kemungkinan menggandeng pihak lain. Skema kemitraan dinilai dapat menjadi alternatif untuk mempercepat penyediaan fasilitas pembibitan tanpa seluruh kebutuhan dibebankan kepada pemerintah daerah.

“Untuk mewujudkannya tentu perlu kolaborasi. Kami akan melihat pihak mana yang memiliki kapasitas dan bisa diajak bersama-sama membangun fasilitas pembibitan,” ujarnya.

Saat ini, aktivitas budidaya rumput laut di Berau masih terkonsentrasi di kawasan Karangan. Diskan belum ingin terburu-buru membuka lokasi baru sebelum memastikan kondisi perairannya benar-benar mendukung.

Faktor geografis, karakter perairan hingga kondisi lingkungan menjadi pertimbangan penting. Jika sejumlah indikator tersebut terpenuhi, pengembangan budidaya berpeluang diarahkan ke kawasan pesisir lainnya.

Yunda menilai peluang tersebut cukup terbuka mengingat Berau memiliki wilayah pesisir yang luas. Namun, perlu pemetaan dan kajian agar pengembangan tidak dilakukan pada lokasi yang justru kurang sesuai untuk rumput laut.

Menariknya, rumput laut bukan komoditas baru bagi masyarakat pesisir Berau. Pada dekade 2000-an, budidaya pernah berkembang di sejumlah wilayah, mulai dari Ulingan hingga kawasan Pulau Maratua.

Produksi yang sempat menjanjikan kala itu harus menghadapi persoalan lingkungan. Serangan predator alami menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas budidaya kemudian meredup.

Pengalaman tersebut kini menjadi pelajaran agar pengembangan kembali dilakukan dengan pendekatan berbeda. Selain memperbaiki kualitas bibit dan kemampuan pembudi daya, faktor lingkungan dan ancaman predator juga perlu diantisipasi sejak awal.

“Kita tentu tidak ingin mengulang persoalan yang pernah terjadi. Karena itu, aspek perlindungan tanaman dan pengelolaan lokasi harus menjadi perhatian sejak budidaya dimulai,” jelasnya.

Diskan Berau berharap pengembangan rumput laut kali ini tidak sekadar menjadi program jangka pendek. Dengan dukungan pembinaan, teknologi, bibit berkualitas dan kemitraan, komoditas tersebut diharapkan mampu kembali memberi nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, maka rumput laut berpotensi menjadi salah satu alternatif usaha perikanan yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menambah ragam komoditas unggulan daerah. (Adv)