Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin
BONTANG - Pelaksanaan Car Free Night (CFN) di Kota Bontang mulai diarahkan tidak sekadar menjadi ruang hiburan masyarakat, tetapi juga kawasan ekonomi dan wisata yang dikelola lebih tertib.
Sejumlah evaluasi dilakukan Pemerintah Kota Bontang bersama unsur TNI, Forkopimda, OPD, camat hingga lurah untuk membenahi pelaksanaan CFN.
Salah satu aturan yang menjadi perhatian ialah pembatasan aktivitas perdagangan UMKM hingga maksimal pukul 23.00 Wita.
Ketentuan tersebut disepakati dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Car Free Night dan Rencana Aksi Optimalisasi di Ruang Command Center Kodim 0908/Bontang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang, Sony Suwito Adicahyono mengatakan pembatasan jam operasional pedagang diperlukan agar pelaksanaan CFN tetap tertib, sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pembersihan kawasan setelah kegiatan selesai.
“Untuk pedagang, kita sepakati aktivitas perdagangan paling lambat pukul 23.00 WITA. Setelah itu ada jeda bagi petugas untuk melakukan pembersihan kawasan,” ujar Sony, Kamis (8/10/2026).
Selain batas waktu berdagang, persoalan kebersihan juga menjadi indikator penting dalam keberlanjutan aktivitas pedagang.
Setiap pelaku UMKM diwajibkan memastikan area di sekitar lapaknya tetap bersih.
Sony menegaskan, kepatuhan pedagang terhadap ketentuan tersebut akan menjadi bagian dari evaluasi pemerintah dalam menentukan keberlanjutan izin berdagang pada pelaksanaan CFN berikutnya.
“Jadi kebersihan ini bukan hanya tanggung jawab petugas. Pedagang juga harus bertanggung jawab terhadap area di sekitar lapaknya. Ini akan menjadi bagian dari evaluasi untuk pelaksanaan berikutnya,” katanya.
Langkah tersebut dilakukan setelah persoalan sampah sempat menjadi perhatian. Sampah yang menumpuk dan terbawa angin akibat keterbatasan tempat sampah dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat.
Pemerintah kemudian menyiapkan tambahan petugas kebersihan yang akan langsung bergerak setelah kegiatan berakhir. Targetnya, kawasan CFN sudah kembali bersih pada malam yang sama.
Di sisi lain, pengaturan lalu lintas dan parkir juga menjadi perhatian.
Tim lapangan mengevaluasi efektivitas pengaturan arus kendaraan, termasuk kemungkinan menerapkan sistem satu arah apabila kondisi di lapangan membutuhkan rekayasa lalu lintas.
Kantong parkir turut dimaksimalkan melalui koordinasi kelurahan bersama Dinas Perhubungan. Sejumlah lokasi yang dapat dimanfaatkan pengunjung berada di kawasan Bank Kaltimtara, BRI, dan SD 002.
Aspek keselamatan pengunjung juga diperkuat. Dinas Kesehatan akan menyiagakan ambulans dan posko kesehatan, sedangkan unit pemadam kebakaran ditempatkan di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan arah Ramayana dan BRI.
Rapat tersebut dipimpin Dandim 0908/Bontang Letkol Inf Ardiansyah dan dihadiri Sekda Bontang Sony Suwito Adicahyono yang mewakili Wali Kota Bontang, bersama jajaran OPD terkait, Forkopimda, camat dan lurah.
Dalam pembahasan tersebut, pemerintah juga mulai melihat CFN sebagai embrio pengembangan kawasan ekonomi dan wisata baru di Kota Bontang.
Sony mengatakan, Pemkot Bontang berkomitmen melanjutkan fasilitasi bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Menurutnya, konsep serupa juga terbuka untuk dikembangkan di lokasi lain yang memiliki potensi ekonomi dan pariwisata.
“Ke depan tentu kita tidak ingin kegiatan seperti ini hanya berhenti di satu lokasi. Kita melihat ada peluang untuk mengembangkan lokasi-lokasi baru yang memiliki potensi ekonomi dan pariwisata,” katanya.
CFN juga direncanakan dipadukan dengan berbagai agenda, mulai dari olahraga, pariwisata hingga kegiatan keagamaan. Langkah tersebut dinilai dapat mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas umum sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Konsepnya nanti bisa kita padukan dengan kegiatan olahraga, pariwisata maupun keagamaan. Harapannya fasilitas umum yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal dan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat,” ujar Sony.
Pengembangan tersebut diarahkan pada konsep kawasan wisata berbasis komunitas. Pemerintah menjadikan penataan kawasan Kayutangan Heritage di Malang sebagai salah satu referensi.
Sony menilai, keberhasilan kawasan wisata tidak selalu ditentukan oleh luas wilayah. Lingkungan permukiman sekalipun dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata apabila ditata, dijaga kebersihannya dan dikelola secara konsisten.
“Ini yang kita coba lihat dari referensi kawasan Kayutangan Heritage. Kawasan yang tertata, bersih dan dikelola secara konsisten bisa menjadi daya tarik wisata meskipun berada di lingkungan permukiman,” katanya.
Sementara itu, rangkaian CFN direncanakan berlangsung hingga minggu keempat. Memasuki minggu kelima, tepatnya pada momentum transisi 31 Oktober menuju 1 November, kawasan depan Markas Kodim 0908/Bontang akan diisi kegiatan Bontang Bershalawat dalam rangka peringatan HUT TNI dan HUT Kota Bontang.
Dengan evaluasi tersebut, pemerintah berharap CFN tidak hanya menjadi ruang rekreasi masyarakat pada malam hari, tetapi berkembang menjadi ruang publik yang mampu menggerakkan UMKM, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.


