Banner ADV

Warisan Leluhur Tetap Hidup, Manugal Perkuat Daya Tarik Kampung

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Tradisi Manugal Suku Dayak. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Tradisi Manugal Suku Dayak. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Warisan Leluhur Tetap Hidup, Manugal Perkuat Daya Tarik Kampung

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Tradisi Manugal Suku Dayak. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Tradisi Manugal Suku Dayak. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Warisan Leluhur Tetap Hidup, Manugal Perkuat Daya Tarik Kampung

Tradisi Manugal Suku Dayak. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Wisatawan yang datang ke Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, tidak hanya disuguhkan bentang alam karst, Danau Nyadeng maupun Puncak Ketepu.

Ada pengalaman lain yang mulai menjadi bagian dari daya tarik kampung, yakni menyaksikan langsung tradisi manugal masyarakat Dayak Lebo.

Tradisi menanam padi menggunakan kayu tugal itu masih dipertahankan masyarakat hingga kini.

Bagi warga Merabu, manugal bukan sekadar aktivitas pertanian tahunan, tetapi menjadi bagian dari warisan leluhur yang memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat dibangun melalui kebersamaan dan hubungan dengan alam.

Kepala Kampung Merabu, Asrani mengatakan tradisi tersebut tetap dipertahankan karena memiliki nilai budaya yang kuat sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata di kampung.

“Manugal ini bagian dari kehidupan masyarakat kami. Jadi bukan dibuat-buat untuk wisata, memang sudah menjadi tradisi yang dilakukan turun-temurun,” kata Asrani.

Pelaksanaan manugal biasanya dilakukan memasuki musim penghujan, sekitar Oktober hingga November. Warga bekerja secara bersama-sama melalui sistem gotong royong, mulai dari menyiapkan lahan hingga proses penanaman.

Dalam kegiatan tersebut, pembagian pekerjaan berlangsung secara alami. Kaum laki-laki membuat lubang menggunakan kayu tugal, sementara perempuan memasukkan benih padi ke dalam lubang yang telah disiapkan.

Menurut Asrani, pola kerja bersama inilah yang menjadi salah satu nilai penting dalam tradisi manugal. Kegiatan tersebut mempertemukan warga dalam satu pekerjaan yang sama sekaligus menjaga hubungan sosial antarmasyarakat.

“Yang paling penting dari manugal bukan hanya menanam padi. Di situ ada kebersamaan, ada saling membantu, dan ada nilai yang diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Seiring berkembangnya Merabu sebagai salah satu tujuan ekowisata di Berau, tradisi tersebut juga mulai mendapat ruang sebagai atraksi budaya. Wisatawan dapat melihat secara langsung proses pertanian tradisional yang masih dilakukan masyarakat, bukan sekadar menikmati panorama alam.

Asrani menyebut peluang tersebut akan diarahkan tetap dalam koridor pelestarian budaya. Masyarakat tidak ingin tradisi manugal kehilangan makna hanya karena dikemas menjadi daya tarik wisata.

“Kami ingin wisatawan mengenal Merabu bukan hanya dari alamnya, tetapi juga dari budaya dan kehidupan masyarakatnya,” tuturnya.

Selain proses menanam, manugal juga memiliki rangkaian kebiasaan dan ritual adat yang berbeda sesuai tradisi kelompok masyarakat. Hal tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang terus dijaga di tengah berkembangnya aktivitas pariwisata di kampung.

Bagi Pemerintah Kampung Merabu, pengenalan tradisi ini kepada wisatawan sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengetahuan lokal kepada generasi muda. Dengan begitu, perkembangan pariwisata tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga memperkuat keberadaan budaya masyarakat setempat.

“Kalau budaya tetap hidup dan masyarakat ikut terlibat, wisata juga bisa memberi manfaat yang lebih panjang untuk kampung,” pungkas Asrani. (Adv)