Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Persoalan tenaga kerja mulai menjadi tantangan serius bagi petani padi di Kabupaten Berau.
Di tengah semakin banyaknya petani berusia lanjut, proses panen yang masih mengandalkan tenaga manual dinilai tidak lagi cukup untuk mengejar waktu panen.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memperkuat mekanisasi pertanian.
Dua unit mesin pemanen kombinasi atau combine harvester kini disalurkan untuk mendukung petani di Kampung Labanan Jaya dan Kampung Semurut.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini mengatakan bantuan itu diperoleh melalui dukungan Kementerian Pertanian menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Dua mesin tersebut masing-masing diberikan kepada Brigade Pangan CSR Sanggam Amatillah di Kampung Labanan Jaya dan Brigade Pangan Oplah Simetro Muda di Kampung Semurut.
Menurut Lita, kebutuhan terhadap alat panen mekanis semakin terasa karena ketersediaan tenaga kerja pertanian tidak sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
“Tenaga panen semakin sulit didapat, terutama ketika waktu panen datang bersamaan,” ujarnya.
Kondisi itu salah satunya terlihat di Kampung Labanan Jaya. Sebagian besar petani di wilayah tersebut sudah berusia lanjut sehingga kemampuan mengandalkan tenaga manual semakin terbatas.
Akibatnya, proses panen berpotensi berjalan lebih lambat dan tidak seluruh hasil produksi dapat ditangani secara optimal apabila tidak ditunjang peralatan yang memadai.
“Untuk itu, mekanisasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi mulai menjadi kebutuhan,” kata Lita.
DTPHP Berau mencatat, dua unit combine harvester berukuran besar dengan merek Crown CCH 106 tersebut memiliki nilai sekitar Rp500 juta hingga Rp600 juta per unit.
Penyaluran alat ini sekaligus menjadi strategi pemerintah daerah untuk menjaga produktivitas pertanian ketika ruang pengadaan sarana produksi melalui APBD sedang terbatas.
Lita menjelaskan, pada 2026 Pemkab Berau tidak mengalokasikan pengadaan bantuan sarana produksi pertanian melalui APBD.
Namun, kebutuhan petani tetap diupayakan dipenuhi dengan membuka jalur dukungan dari pemerintah pusat.
Koordinasi dengan Kementerian Pertanian kemudian dilakukan agar Berau tetap memperoleh alokasi bantuan dari APBN.
“Ketika kemampuan daerah terbatas, kami mencari dukungan dari pemerintah pusat agar kebutuhan petani tetap bisa dijawab,” jelasnya.
Untuk Kampung Semurut, keberadaan mesin baru diharapkan menambah kekuatan sarana panen yang sebelumnya masih terbatas. Penggunaan alat tersebut juga diharapkan dapat memangkas waktu panen sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pekerja manual.
Pemkab Berau pun memastikan upaya mencari dukungan pemerintah pusat tidak berhenti pada bantuan dua unit mesin tersebut. Koordinasi dengan kementerian akan terus dilakukan untuk membuka peluang tambahan dukungan bagi sektor pertanian daerah.
Lita menekankan, alat yang sudah diterima harus dikelola secara serius oleh Brigade Pangan. Mesin tidak boleh hanya menjadi bantuan yang tersimpan, tetapi harus benar-benar berputar membantu petani saat musim panen.
“Kami berharap alat ini dirawat dan dimanfaatkan semaksimal mungkin agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak petani,” pungkasnya. (Adv)



