Banner ADV

Stand Up Comedy Tenggarong Didorong Tumbuh dan Masuk Ruang Publik

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Pertunjukan rutin yang digelar di Haha Cafe Tenggarong. (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Pertunjukan rutin yang digelar di Haha Cafe Tenggarong. (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Stand Up Comedy Tenggarong Didorong Tumbuh dan Masuk Ruang Publik

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Pertunjukan rutin yang digelar di Haha Cafe Tenggarong. (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Pertunjukan rutin yang digelar di Haha Cafe Tenggarong. (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Stand Up Comedy Tenggarong Didorong Tumbuh dan Masuk Ruang Publik

Pertunjukan rutin yang digelar di Haha Cafe Tenggarong. (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

TENGGARONG - Perkembangan komunitas Stand Up Comedy Tenggarong mulai mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Komunitas yang selama ini bergerak secara mandiri tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.

Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar mendorong komunitas itu tidak hanya bertahan melalui panggung open mic di kafe, tetapi juga berani tampil di ruang publik dengan cakupan penonton yang lebih luas.

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pihaknya telah beberapa kali memantau aktivitas komunitas tersebut. Salah satunya melalui pertunjukan rutin yang digelar di Haha Cafe Tenggarong.

Menurut Zikri, hal yang menarik dari komunitas tersebut adalah kemampuannya berkembang tanpa bergantung pada pembiayaan APBD.

“Memang komunitas ini non-APBD, tidak ada pembiayaan. Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu memang mendapat atensi kami. Kami, secara komunitas, apalagi dinas, sangat mengapresiasi sekali,” kata Zikri. Kamis (8/10/2026)

Dari awalnya hanya sekitar delapan orang, komunitas kini terus bertambah. Meski sebagian komika masih harus membagi waktu dengan pekerjaan dan aktivitas lainnya, keberadaan panggung open mic dinilai menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan komunitas.

Dispar Kukar pun mulai menyiapkan pola pengembangan melalui kolaborasi dengan komunitas Stand Up Comedy Samarinda. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan komika lokal, terutama dalam penyusunan dan penyampaian materi.

Lebih dari delapan anggota komunitas Stand Up Samarinda hadir dalam kegiatan tersebut untuk memberikan dukungan sekaligus berbagi pengalaman kepada komika Tenggarong.

Zikri menjelaskan, kemampuan menyusun materi menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat sebelum komika lokal dibawa ke panggung yang lebih besar. Sebab, karakter penonton di ruang publik berbeda dengan penonton yang datang secara khusus ke pertunjukan stand up comedy di kafe.

Salah satu ruang yang tengah diproyeksikan adalah kawasan Simpang Odah Etam.

“Materi stand up comedy kan intinya ada di materi, bagaimana penyampaiannya. Jadi, memang kami juga minta bantuan dari teman-teman stand up dari Samarinda untuk datang ke sini,” ujarnya.

Menurut Zikri, tantangan ketika tampil di ruang publik terletak pada keberagaman penonton. Dalam satu lokasi, komika bisa berhadapan dengan anak-anak, remaja hingga orang tua.

“Di sana penontonnya audiensnya berbeda-beda. Ada anak-anak, ada orang tua, jadi sense of humor-nya berbeda-beda. Karena mereka juga pasti melihat audiens,” jelasnya.

Karena itu, rencana tampil di Simpang Odah Etam tidak hanya sebatas memberikan panggung baru. Dispar Kukar ingin momentum tersebut sekaligus menjadi proses pembelajaran bagi komika Tenggarong agar mampu membaca karakter penonton dan menyesuaikan materi.

Ketua Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong, Muhammad Zakaria Alfarizi, menyambut positif perkembangan tersebut. Ia menyebut antusiasme terhadap kegiatan open mic dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan peningkatan.

Tidak hanya dari Tenggarong, penonton juga mulai datang dari daerah sekitar, termasuk Samarinda.

“Alhamdulillah, saya senang dengan banyaknya penonton yang hadir. Ada juga beberapa orang dari Samarinda. Harapannya ke depan bukan hanya dari Samarinda, tetapi masyarakat Tenggarong sendiri semakin banyak yang ikut menonton,” ujarnya.

Pertumbuhan komunitas juga terlihat dari munculnya anggota baru. Beberapa komika yang baru bergabung sekitar tiga bulan terakhir bahkan sudah mampu menyiapkan materi untuk penampilan sekitar lima menit.

Saat ini, sekitar 14 orang telah terdaftar sebagai anggota komunitas. Namun, panggung open mic tetap dibuka bagi masyarakat umum yang ingin mencoba.

Menurut Zakaria, open mic tidak semata-mata menjadi tempat untuk mencari komika baru. Panggung tersebut juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum maupun menyampaikan pengalaman dan keresahan dengan pendekatan komedi.

“Kami terbuka untuk umum. Misalnya ada yang ingin belajar public speaking atau hanya ingin menyampaikan keluh kesah, bisa disampaikan melalui open mic. Untuk usia juga terbuka, mulai SMP, SMA hingga mahasiswa,” katanya.

Kegiatan open mic dijadwalkan berlangsung setiap Rabu malam mulai sekitar pukul 20.00 Wita.

Meski demikian, komunitas masih menghadapi persoalan klasik, yakni menjaga konsistensi jumlah penampil dan penonton. Dalam beberapa pertunjukan, jumlah komika yang tampil bisa mencapai lima hingga enam orang, sementara penonton terkadang belum memenuhi banyak meja.

Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan kegiatan. Bagi komunitas, konsistensi menggelar panggung justru menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem stand up comedy di Tenggarong.

Dalam jangka panjang, komunitas berharap keberadaan Stand Up Comedy Tenggarong semakin dikenal dan dapat berkembang hingga ke berbagai wilayah di Kukar.

Sementara itu, Dispar Kukar melihat pengembangan komunitas sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus menyiapkan regenerasi pelaku seni dan kreatif.

Upaya tersebut tidak hanya menyasar komunitas yang sudah terbentuk. Mulai 2027, Dispar Kukar juga menyiapkan program Ekraf Goes to School untuk menjaring talenta baru dari lingkungan sekolah.

Program tersebut akan mengenalkan sekaligus mencari bibit di sejumlah subsektor ekonomi kreatif, seperti film, fotografi, tari, musik hingga stand up comedy.

“Jadi, kombinasinya memang dari sektor film, fotografi, tari, musik, nanti akan turun bersama-sama ke sekolah untuk kita mencari bibit-bibit. Karena kalau yang lama-lama ini kan memang ya sampai di situ saja, jadi kita harus mencari bibit-bibit baru,” kata Zikri. (Adv)