Banner ADV

Dari Limbah Jadi Cuan, Kelapa Maratua Dibidik Jadi Oleh-Oleh Wisata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Produk kerajinan berbahan limbah kelapa yang dikembangkan menjadi produk bernilai jual. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Produk kerajinan berbahan limbah kelapa yang dikembangkan menjadi produk bernilai jual. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Dari Limbah Jadi Cuan, Kelapa Maratua Dibidik Jadi Oleh-Oleh Wisata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Produk kerajinan berbahan limbah kelapa yang dikembangkan menjadi produk bernilai jual. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Produk kerajinan berbahan limbah kelapa yang dikembangkan menjadi produk bernilai jual. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Dari Limbah Jadi Cuan, Kelapa Maratua Dibidik Jadi Oleh-Oleh Wisata

Produk kerajinan berbahan limbah kelapa yang dikembangkan menjadi produk bernilai jual. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Wisatawan yang berkunjung ke Maratua selama ini membawa pulang cerita tentang laut, pasir putih dan keindahan bawah air.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Berau ingin ada satu hal lain yang ikut masuk ke dalam koper mereka: produk buatan masyarakat lokal. Peluang itu mulai dibangun dari bahan yang selama ini mudah ditemui di kepulauan tersebut, yakni kelapa.

Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau tengah mendorong pemanfaatan bagian kelapa yang tidak terpakai untuk dikembangkan menjadi kerajinan.

Bukan hanya sebagai upaya mengurangi limbah, tetapi juga membuka ruang usaha baru yang bisa terhubung langsung dengan geliat pariwisata Maratua.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita melihat potensi tersebut cukup besar karena Maratua memiliki bahan baku sekaligus pasar wisata yang berjalan setiap hari.

Ia menyebut kebutuhan terhadap cendera mata khas daerah masih menjadi celah yang bisa diisi oleh produk masyarakat. “Potensinya sudah ada, tinggal kita dorong supaya menjadi produk yang punya nilai jual,” ujar Eva.

Pengembangan produk pun tidak diarahkan pada satu jenis kerajinan. Dalam pelatihan yang diberikan kepada masyarakat, material kelapa dikreasikan menjadi gantungan kunci, bros, kalung, tempat tisu hingga miniatur kapal layar.

Bentuknya bisa sederhana, tetapi konsep yang dibangun jauh lebih besar. Produk tersebut diharapkan membawa identitas Maratua sekaligus memberikan pilihan oleh-oleh yang benar-benar dibuat dari daerah tujuan wisata itu sendiri.

Namun, pemerintah tidak ingin kegiatan berhenti pada kemampuan membuat produk. Tantangan berikutnya justru bagaimana menjaga produksi tetap berjalan dan memastikan hasil kerajinan memiliki pembeli.

Untuk itu, kelompok pengrajin didorong memiliki kelembagaan dan legalitas yang jelas. Dengan begitu, akses terhadap bantuan peralatan maupun program pengembangan usaha dapat lebih terbuka.

“Pelatihannya hanya langkah awal. Setelah itu harus ada produksi dan pendampingan,” jelasnya.

Pemerintah kampung dan kecamatan juga diminta ikut mengambil peran. Pendampingan diperlukan agar kelompok yang sudah mendapatkan keterampilan tidak kehilangan arah ketika memasuki tahap produksi dan pemasaran.

Sementara untuk urusan pasar, Diskoperindag mulai membidik sektor yang paling dekat dengan wisatawan, yakni resor-resor di Maratua.

Kerja sama dengan Dekranasda dan pelaku usaha pariwisata akan didorong agar produk kerajinan masyarakat tidak hanya dipajang sebagai suvenir.

Produk lokal tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari kebutuhan resor, mulai dari dekorasi hingga perlengkapan yang digunakan di kamar dan restoran.

“Pasarnya jangan hanya menunggu wisatawan datang membeli. Kami ingin pelaku usaha wisata ikut memakai produk masyarakat,” kata Eva.

Jika pola tersebut berjalan, rantai ekonominya menjadi lebih panjang. Bahan baku berasal dari lingkungan sekitar, kemudian diolah oleh warga, dibeli oleh pelaku usaha atau wisatawan, dan uangnya kembali berputar di masyarakat Maratua.

Model ini sekaligus membuka peluang agar pertumbuhan industri pariwisata tidak hanya dinikmati sektor akomodasi dan jasa wisata, tetapi ikut menciptakan ruang bagi usaha kreatif masyarakat setempat.

Eva mengatakan, pengembangan kerajinan kelapa menjadi bagian dari upaya memperbesar peran warga dalam ekonomi pariwisata.

“Yang kami kejar adalah masyarakat bisa ikut menjadi pelaku usaha dari potensi yang mereka punya,” pungkasnya. (Adv)