Kebutuhan Tenaga Kerja Sawit Jadi Sasaran Program Vokasi STIPER Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana rapat paripurna di DPRD Kutai Timur. (Foto: Dok. seputarfakta.com)
Suasana rapat paripurna di DPRD Kutai Timur. (Foto: Dok. seputarfakta.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kebutuhan Tenaga Kerja Sawit Jadi Sasaran Program Vokasi STIPER Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana rapat paripurna di DPRD Kutai Timur. (Foto: Dok. seputarfakta.com)
Suasana rapat paripurna di DPRD Kutai Timur. (Foto: Dok. seputarfakta.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kebutuhan Tenaga Kerja Sawit Jadi Sasaran Program Vokasi STIPER Kutim

Suasana rapat paripurna di DPRD Kutai Timur. (Foto: Dok. seputarfakta.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin

SANGATTA – Kebutuhan Tenaga Kerja (Naker) terampil di sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu peluang yang ingin dimanfaatkan generasi muda di Kabupaten Kutim. 

Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim berencana membuka program pendidikan vokasi selama satu tahun melalui kerja sama dengan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta.

Program itu diarahkan untuk membekali peserta dengan keterampilan yang dibutuhkan industri perkebunan. 

Dengan pendidikan yang lebih spesifik, masyarakat lokal diharapkan memiliki kesempatan untuk mengisi posisi pekerjaan yang selama ini banyak ditempati tenaga terlatih dari perguruan tinggi luar daerah.

Rencana pembukaan program vokasi itu disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, dalam Rapat Paripurna ke-8 DPRD Kutim 2026–2027, dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim.

Selain menyiapkan keterampilan kerja, perluasan akses pendidikan tinggi juga menjadi perhatian pemerintah daerah. 

Salah satu kendala yang dihadapi calon mahasiswa dari kecamatan di luar Sangatta adalah ketersediaan tempat tinggal selama menjalani perkuliahan.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, STIPER Kutim telah memiliki fasilitas asrama yang pembangunannya mendapat dukungan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dari berbagai kecamatan yang ingin melanjutkan pendidikan di Sangatta.

Di sisi ketenagakerjaan, Kutim masih menghadapi tantangan dalam menekan angka pengangguran. 

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2025 tercatat sebesar 6,20 persen. Dalam perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026, angka tersebut ditargetkan berada pada kisaran 5,90–6,30 persen, sedangkan target pada RKPD 2027 ditetapkan sebesar 5,50–6 persen.

Pemkab Kutim, menilai pertumbuhan investasi perlu diikuti dengan peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat. 

Pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu upaya agar warga lokal tidak hanya berada di sekitar aktivitas ekonomi, tetapi juga memperoleh manfaat melalui keterlibatan langsung di dunia kerja.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan, program vokasi satu tahun tersebut dirancang khusus untuk menyiapkan tenaga kerja bagi sektor perkebunan kelapa sawit melalui kerja sama dengan INSTIPER Yogyakarta.

“Insyaallah STIPER akan membuka program vokasi satu tahun kerja sama dengan INSTIPER Jogja yang khusus menyiapkan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit,” ujar Ardiansyah.

Ia juga mengungkapkan, sebagian masyarakat di kecamatan ingin melanjutkan pendidikan di Sangatta, tetapi terkendala persoalan tempat tinggal. 

Menurutnya, keberadaan asrama dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.

“Yang saya dengar di berbagai kecamatan, ingin kuliah di Sangatta, tapi satu yang sulit, tempat tinggal tidak ada katanya,” ungkapnya.

Terkait pengurangan pengangguran, Ardiansyah menegaskan bahwa peningkatan keterampilan tenaga kerja perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan investasi. 

Ia berharap masyarakat Kutim memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan sehingga dapat mengambil peran dalam pembangunan daerah.

“Keterampilan tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar masyarakat Kutai Timur tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan,” tegasnya.

Selain membuka peluang kerja, Pemkab Kutim menargetkan pembangunan yang berdampak pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, pemerataan pembangunan, serta penurunan kemiskinan dan pengangguran. 

Sebagai informasi, program vokasi STIPER Kutim menjadi salah satu rencana yang diharapkan dapat menghubungkan peningkatan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja di daerah.