Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Es krim durian yang dijajakan di kawasan Tugu Adipura, Jalan Ahmad Yani, Gunung Kawi, menjadi salah satu pilihan jajanan yang telah dikenal masyarakat selama bertahun-tahun.
Namun, di balik cita rasa durian yang menjadi andalannya, usaha tersebut kini menghadapi tantangan akibat penjualan yang tak lagi seramai dulu.
Penjual es krim durian, Suhada masih berusaha mempertahankan usahanya meski jumlah pembeli mengalami penurunan.
Bahkan, ia mengaku kini menjadi satu-satunya penjual es krim durian yang masih bertahan di kawasan tersebut.
Menurutnya, dahulu terdapat sekitar delapan orang yang menjalankan usaha serupa. Seiring waktu, satu per satu memilih berhenti karena tidak mampu lagi mempertahankan usahanya.
"Dulu ada delapan orang. Sekarang tinggal saya sendiri. Yang lain sudah pulang kampung," ucap Suhada, Sabtu (10/10/2026).
Ia mengatakan kondisi penjualan saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Jika dahulu satu wadah es krim bisa habis dalam sehari, bahkan terkadang mampu menjual hingga dua wadah, maka kini satu wadah bisa membutuhkan waktu sampai dua hari untuk terjual.
Penurunan penjualan tersebut membuatnya harus lebih bersabar dalam menjalankan usaha. Tapi tetap berjualan dan mengandalkan es krim berbahan dasar durian sebagai produk utamanya.
Dalam sehari, Suhada menggunakan sekitar tiga kilogram durian jenis montong untuk membuat es krim.
Proses pembuatannya dilakukan sendiri dengan bantuan mesin.
Ia mengolah bahan-bahan tersebut hingga menjadi es krim yang siap dijual kepada pelanggan. Usaha itu bukan sekadar berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suhada telah menggeluti pembuatan dan penjualan es krim durian sejak lama, setelah sebelumnya belajar dari seorang bos bernama Syamsul ketika bekerja di Bogor.
Seiring waktu, ia memilih menetap berjualan di kawasan Tugu Adipura. Jika dahulu sempat berjualan dengan berkeliling, kini ia lebih banyak menunggu pembeli di lokasi tersebut hingga sudah dikenal warga.
Namun, bertahan di tempat itu bukan tanpa beban biaya. Suhada harus mengeluarkan uang sebesar Rp1 juta setiap bulan untuk menyewa gerobak beserta mesin yang digunakan dalam proses pembuatan es krim.
Di sisi lain, ia juga harus menanggung biaya bahan baku dan kebutuhan operasional lainnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika penjualan sedang sepi.
Suhada menyebutkan, hasil penjualan belakangan ini berkisar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sehari.
Pada kondisi tertentu, penjualan bisa mencapai Rp500 ribu, bahkan Rp1 juta. Ketika dagangannya laris dan stok terjual seluruhnya, hasil penjualan disebut dapat mencapai sekitar Rp1 juta hingga Rp1,4 juta.
Meski demikian, angka tersebut tidak selalu bisa dicapai setiap hari. Apalagi, es krim yang dibuatnya tidak lagi habis dalam waktu sehari seperti sebelumnya.
Ia juga menyebutkan modal produksi hariannya sekitar Rp700 ribu. Dengan penjualan yang tidak menentu, Suhada harus memperhitungkan pengeluaran untuk bahan baku, sewa gerobak dan mesin, serta kebutuhan sehari-hari.
"Pas-pasan saja untuk kebutuhan sehari-hari," tuturnya.
Kondisi itu membuat Suhada harus mengatur penghasilannya dengan cermat agar tetap bisa melanjutkan usaha.
Ia mengaku sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan jauh dari kampung halaman dan belum kembali ke daerah asalnya di Garut.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Suhada masih memilih bertahan. Baginya, berjualan es krim durian menjadi sumber penghidupan yang terus ia jalani di tengah perubahan kondisi pasar.
Keberadaan Suhada sekaligus menjadi gambaran perjuangan pedagang kecil yang berupaya mempertahankan usaha di tengah penjualan yang tidak menentu.
Di kawasan Tugu Adipura, ia masih melayani pembeli yang datang, sembari berharap dagangannya kembali ramai seperti dahulu.


