BPBD Samarinda Desak Rekomendasi OMC Dilanjutkan: Karhutla Meluas, Kekeringan Mengancam dan Kualitas Udara Belum Normal

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pesawat yang akan digunakan untuk pelaksanaan MOC kini telah siaga di bandara APT Pranoto Samarinda, Selasa (15/9/2026). (Foto: Dok.Pemkot Samarinda)
Pesawat yang akan digunakan untuk pelaksanaan MOC kini telah siaga di bandara APT Pranoto Samarinda, Selasa (15/9/2026). (Foto: Dok.Pemkot Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BPBD Samarinda Desak Rekomendasi OMC Dilanjutkan: Karhutla Meluas, Kekeringan Mengancam dan Kualitas Udara Belum Normal

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pesawat yang akan digunakan untuk pelaksanaan MOC kini telah siaga di bandara APT Pranoto Samarinda, Selasa (15/9/2026). (Foto: Dok.Pemkot Samarinda)
Pesawat yang akan digunakan untuk pelaksanaan MOC kini telah siaga di bandara APT Pranoto Samarinda, Selasa (15/9/2026). (Foto: Dok.Pemkot Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BPBD Samarinda Desak Rekomendasi OMC Dilanjutkan: Karhutla Meluas, Kekeringan Mengancam dan Kualitas Udara Belum Normal

Pesawat yang akan digunakan untuk pelaksanaan MOC kini telah siaga di bandara APT Pranoto Samarinda, Selasa (15/9/2026). (Foto: Dok.Pemkot Samarinda)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mendesak pihak berwenang dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk kembali merekomendasikan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan di wilayah Samarinda. 

Langkah ini dinilai vital untuk mengatasi akumulasi bencana krisis air, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga memburuknya kualitas udara akibat fenomena El Nino kuat yang diperkirakan berlangsung hingga awal November 2026.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menegaskan bahwa potensi dan kemanfaatan teknologi OMC sangat dibutuhkan saat ini guna menekan eskalasi bencana yang kian kompleks di Ibu Kota Kaltim tersebut.

"Kami mohon OMC tetap direkomendasikan dan dihadirkan lagi di Samarinda," tegas Suwarso. 

Suwarso memaparkan bahwa frekuensi kebakaran paling parah terjadi di dua wilayah utama, yakni Kecamatan Sambutan dan Kecamatan Palaran. Di kedua daerah ini, intensitas hujan tercatat nol persen selama dua bulan terakhir sehingga tim satgas darat harus bekerja ekstra keras hingga dini hari melakukan pemadaman.

Tak hanya karhutla, Samarinda juga menghadapi ancaman asap kabut. Kondisi ini membuat kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga Pemkot Samarinda menerbitkan rekomendasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau meliburkan sekolah bagi anak-anak di wilayah terdampak. 

Ancaman kemarau panjang akibat El Nino juga berdampak sistemik pada ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan di Samarinda. BPBD mencatat seluruh sumur bor milik warga yang selama ini diandalkan secara komunal telah mengering total.

Untuk bertahan, Pemkot Samarinda terpaksa mengambil sejumlah langkah darurat. Akibat terjadinya intrusi air laut ke sumber air baku, air terpaksa tetap dialirkan ke pemukiman warga hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (non-konsumsi).

Dari sekitar 500 hektar lahan sawah yang terancam puso, baru sekitar 50 persen yang berhasil dialiri air. Air irigasi tersebut memanfaatkan ceruk bekas tambang (void) yang sebelumnya telah diuji kualitas airnya oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda.

BPBD juga terus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk memetakan sumber air baku dan penanganan kekeringan pertanian secara terpadu.

"Meski pembentukan awan sempat kecil, namun kami tetap berharap OMC dihadirkan kembali secara berkelanjutan di Samarinda," pungkas Suwarso.