Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Kesenian tradisional Memanda Kutai Panji Berseri kembali menunjukkan eksistensinya melalui pementasan di Simpang Odah Etam (SOE), Tenggarong, Sabtu (10/10/2026) malam.
Kembalinya kelompok seni ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi sekaligus memperluas jangkauan pertunjukannya.
Dalam pementasan bertajuk Sepenggal Kisah Memanda di dalam Keresmenan Memanda Kutai Panji Berseri, kelompok seni tersebut mulai menghadirkan sejumlah pembaruan dalam penyajian.
Inovasi dilakukan agar pertunjukan lebih menarik tanpa menghilangkan karakter budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pembina Memanda Panji Berseri, Ahmad Rusli, mengaku bersyukur kelompok yang dibinanya dapat kembali tampil di hadapan masyarakat setelah cukup lama vakum dari panggung pertunjukan.
Ia berharap pementasan tersebut menjadi titik awal bagi keberlangsungan kelompok seni itu, sekaligus membuka kesempatan untuk tampil dalam berbagai agenda kebudayaan maupun kegiatan lainnya.
“Artinya, aku sangat senang sekali karena Memanda Etam bisa berlangsung dengan baik dan mulus. Ini juga berkat bantuan dari teman teman. Mudah-mudahan Memanda Etam ini bisa terus berjalan dan nantinya diundang orang untuk tampil,” ujarnya.
Rusli menjelaskan, Memanda Panji Berseri merupakan bagian dari warisan kesenian keluarga yang terus dijaga dari generasi ke generasi, sehingga berharap anak dan cucunya kelak dapat melanjutkan tradisi tersebut agar tidak terputus.
Menurutnya, pelestarian Memanda tidak cukup hanya mengandalkan kelompok seni yang ada saat ini. Keterlibatan generasi muda dan dukungan pemerintah juga diperlukan, terutama untuk membantu keberlangsungan latihan, pementasan, serta pengembangan kelompok.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Zikri Umulda, menilai pembaruan dalam pertunjukan menjadi langkah penting untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada khalayak yang lebih luas.
Ia mengapresiasi upaya Memanda Panji Berseri yang mulai mengembangkan konsep pertunjukan melalui kolaborasi dengan kalangan akademisi. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperkaya penyajian tanpa harus mengorbankan nilai dan identitas budaya yang melekat.
“Sekarang mereka sudah banyak berimprovisasi dan berinovasi. Tugas kami adalah membantu mempromosikan mereka, supaya bukan hanya masyarakat Kutai Kartanegara yang menikmati, tetapi juga masyarakat secara nasional,” kata Zikri.
Ia menambahkan, Simpang Odah Etam merupakan salah satu ruang yang disediakan untuk menampung kreativitas masyarakat, termasuk para pelaku seni dan budaya. Keberadaan panggung tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai tempat berekspresi sekaligus sarana memperkenalkan karya kepada publik.
Memanda Kutai Panji Berseri memiliki ciri khas berupa cerita berlatar kehidupan kerajaan yang dipadukan dengan seni tutur atau beladon. Perpaduan tersebut menjadi identitas utama yang membedakannya dari bentuk pertunjukan lainnya.
Di tengah upaya pengembangan, unsur tradisional itu tetap menjadi bagian penting yang perlu dipertahankan. Dengan demikian, inovasi tidak sekadar memperbarui bentuk pertunjukan, tetapi juga menjadi sarana agar nilai budaya Kutai tetap dikenal dan diminati lintas generasi.
Pementasan ini mendapat dukungan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui program BIMA dengan skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN).
Melalui kolaborasi, regenerasi, dan promosi yang berkelanjutan, Memanda Kutai Panji Berseri diharapkan mampu kembali memperkuat eksistensinya di daerah sekaligus membuka peluang untuk tampil di panggung nasional. (Adv)



