Fenomena El Nino di Kaltim Sangat Kuat, Paser dan Samarinda Alami Kekeringan Ekstrem

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Data dinamika atmosfer terkini. (Foto: Dok.BMKG Samarinda)
Data dinamika atmosfer terkini. (Foto: Dok.BMKG Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Fenomena El Nino di Kaltim Sangat Kuat, Paser dan Samarinda Alami Kekeringan Ekstrem

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Data dinamika atmosfer terkini. (Foto: Dok.BMKG Samarinda)
Data dinamika atmosfer terkini. (Foto: Dok.BMKG Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Fenomena El Nino di Kaltim Sangat Kuat, Paser dan Samarinda Alami Kekeringan Ekstrem

Data dinamika atmosfer terkini. (Foto: Dok.BMKG Samarinda)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA - Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda menyampaikan informasi terkait dinamika atmosfer terkini di mana wilayah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah dihantam fenomena El Nino dalam kategori sangat kuat. 

Kondisi ini memicu dampak signifikan berupa penurunan curah hujan secara drastis serta ancaman kekeringan ekstrem di sejumlah kabupaten/kota.

Prakirawan (Forecaster) BMKG Samarinda, Bai'at Alhadid menjelaskan, lonjakan suhu muka laut menjadi indikator utama menguatnya fenomena iklim global ini.

Data anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada September 2026 mencatatkan angka +3,07. Rata-rata tiga bulanan sejak Juli hingga September pun menyentuh +2,70.

"Ini menandakan kita sedang berada dalam periode El Nino kategori sangat kuat," terang Bai'at Alhadid dalam pemaparan Prospek Iklim dan Prediksi Musim Hujan Kaltim 2026/2027.

Bai'at memaparkan bahwa pergerakan massa udara di wilayah Indonesia saat ini masih didominasi oleh angin monsun Australia. 

Angin ini memiliki karakteristik kering dan minim kandungan uap air, sehingga menghambat pembentukan awan hujan di wilayah Kaltim.

Akibat dinamika tersebut, tren penurunan curah hujan di Kaltim sudah berlangsung sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026 sebagai bulan terkering. 

Hampir seluruh wilayah Kaltim berada pada intensitas curah hujan kategori rendah. Kemudian pada September kondisi kering terus berlanjut tanpa peningkatan curah hujan yang berarti.

Berdasarkan hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga pemutakhiran data per 30 September 2026, BMKG mencatat beberapa wilayah Kaltim telah masuk dalam kriteria kekeringan ekstrem karena tidak mengguyur hujan selama lebih dari 60 hari (2 bulan) berturut-turut.

Wilayah terparah didominasi oleh bagian selatan Kaltim, yakni Kabupaten Paser di lima lokasi yakni Kecamatan Batu Engau, Batu Sopang, Tanah Grogot, Kuaro dan Muara Samu. 

Sementara itu, di Kota Samarinda, dua titik juga mencatatkan rekor tak pernah diguyur hujan selama dua bulan penuh, yakni Kecamatan Sambutan dan Kecamatan Palaran. 

"Kondisi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat," ungkapnya. 

Kondisi iklim ekstrem ini diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. BMKG memproyeksikan fenomena El Nino sangat kuat ini akan bertahan hingga awal tahun 2027.

Panjangnya durasi El Nino ini dipastikan memberi implikasi langsung terhadap pergeseran awal musim hujan serta pola iklim yang dialami masyarakat Kaltim pada periode 2026/2027. 

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana kemarau panjang, seperti krisis air bersih, kebencanaan karhutla, dan dampak pada sektor pertanian.

Terkait dengan musim hujan Kaltim diprediksi baru dimulai pada akhir Oktober dan sebagian besar wilayah memasuki musim hujan pada pertengahan November 2026, termasuk Kabupaten Paser yang diprediksi menjadi wilayah paling akhir memasuki musim hujan yakni pada akhir November 2026.