Pemerataan Listrik di Kutim Belum Tuntas, Sejumlah Wilayah Masih Menanti Akses 24 Jam dari PLN

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan di HUT ke 27 Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan di HUT ke 27 Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pemerataan Listrik di Kutim Belum Tuntas, Sejumlah Wilayah Masih Menanti Akses 24 Jam dari PLN

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan di HUT ke 27 Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan di HUT ke 27 Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pemerataan Listrik di Kutim Belum Tuntas, Sejumlah Wilayah Masih Menanti Akses 24 Jam dari PLN

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan di HUT ke 27 Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan 

SANGATTA – Pemerataan akses listrik masih menjadi pekerjaan rumah Kabupaten Kutim di usia ke-27 tahun. 

Meski sejumlah desa mulai menikmati layanan listrik PLN selama 24 jam, pembangunan infrastruktur kelistrikan belum menjangkau seluruh wilayah yang menghadapi kendala geografis.

Pada 5 Oktober 2026, layanan listrik PLN selama 24 jam mulai dinikmati masyarakat di empat desa di Kecamatan Batu Ampar, yakni Beno Harapan, Mawai Indah, Mugi Rahayu, dan Himba Lestari.

Sebelumnya, enam desa di Kecamatan Sangkulirang juga mendapatkan layanan serupa pada Agustus 2026.

Enam desa tersebut meliputi Saka, Palawan, Tepian Terap, Mandu Dalam, Mandu Pantai Sejahtera, dan Peridan.

Penambahan wilayah yang menikmati listrik sepanjang hari itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses energi hingga perdesaan.

Namun, masih adanya wilayah yang membutuhkan akses listrik menunjukkan pemerataan infrastruktur dasar di Kutim belum sepenuhnya tuntas.

Kondisi geografis menjadi salah satu tantangan dalam menjangkau wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan maupun pusat pertumbuhan ekonomi. 

Padahal ketersediaan listrik berpengaruh terhadap berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pendidikan hingga kegiatan ekonomi.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menyinggung persoalan pemerataan infrastruktur tersebut dalam pidato peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, akses listrik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan penerangan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Bagi masyarakat desa, listrik bukan sekadar penerangan. Listrik berarti kesempatan bagi anak untuk belajar, bagi pelaku usaha untuk berkembang, serta terbukanya akses terhadap teknologi, informasi, dan pelayanan dasar,” ujar Ardiansyah.

Ia menuturkan, pembangunan infrastruktur masih perlu dilanjutkan agar masyarakat di wilayah terpencil tidak tertinggal akibat keterbatasan akses dan kondisi geografis.

“Karena itu, pekerjaan kita belum selesai. Masih ada wilayah yang membutuhkan penguatan infrastruktur dan akses listrik. Kita ingin pembangunan terus bergerak hingga tidak ada masyarakat Kutai Timur yang tertinggal hanya karena jarak dan kondisi geografis,” katanya.

Sebagai informasi pemerataan listrik pun masih menjadi tantangan pembangunan Kutim ke depan. 

Selain memperluas jangkauan layanan, upaya tersebut membutuhkan kesinambungan pembangunan infrastruktur agar masyarakat di wilayah terpencil dapat menikmati akses energi untuk mendukung pendidikan, pelayanan dasar, dan kegiatan ekonomi.