Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Buniyamin
BONTANG – Komisi C dan Komisi A DPRD Kota Bontang melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap proyek pembangunan jalan di Jalan Gotong Royong, Kelurahan Belimbing, Selasa (13/10/2026).
Sidak dilakukan menyusul laporan warga mengenai progres pekerjaan yang dinilai lambat serta aspek keselamatan di sekitar lokasi proyek yang dianggap belum memadai.
Sidak dipimpin Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Bontang, Muhammad Sahib. Dalam peninjauan tersebut, DPRD menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait pengerjaan proyek yang dinilai tidak berjalan sesuai harapan.
“Kita datang sidak karena ada permintaan masyarakat bahwa ada kegiatan proyek yang dilaksanakan agak lambat,” ujar Sahib.
Ia menilai keterlambatan pekerjaan, meskipun dalam persentase kecil, tetap terlihat dan perlu menjadi perhatian agar pelaksanaan proyek berjalan sesuai rencana.
“Kegiatan yang terlambat satu dua persen itu kelihatan,” imbuhnya. Diketahui, proyek pembangunan jalan tersebut memiliki spesifikasi lebar 5 meter dengan panjang mencapai 300 meter.
Selain persoalan progres pekerjaan, aspek keselamatan atau safety menjadi perhatian warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek.
Hamka, warga Gotong Royong RT 49, mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan kualitas pekerjaan selama pelaksanaannya sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB).
Namun, ia menyoroti kurangnya perhatian terhadap keselamatan di sekitar area pembangunan, terutama karena banyak anak-anak yang beraktivitas dan melintas di lokasi tersebut.
“Yang saya permasalahkan itu masalah safety-nya. Kalau pekerjaannya oke, saya kan ikut mengawasi. RAB-nya sesuai. Tetapi yang saya permasalahkan ini anak-anak,” ungkap Hamka.
Ia mengaku harus berulang kali mengingatkan dan mengusir anak-anak yang berada di sekitar lokasi proyek saat melintas setiap hari. Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya terus berulang tanpa adanya langkah pengamanan yang memadai dari pihak pelaksana.
Hamka menegaskan, kritik yang disampaikannya bukan untuk menghambat pembangunan jalan. Sebaliknya, ia mendukung proyek tersebut, tetapi berharap pengerjaan dilakukan secara berkelanjutan dan memperhatikan keselamatan masyarakat.
“Saya bersuara itu, Pak, bukan karena apanya. Karena kalau sudah kelewatan, saya bersuara. Saya orangnya paling vokal kalau masalah-masalah begitu,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar pekerjaan tidak terkesan terbengkalai karena progres yang tidak berkelanjutan. Baginya, masyarakat memiliki batas kesabaran ketika pembangunan yang diharapkan justru berjalan lambat tanpa kepastian.
“Kalau kesabaran kita itu proyeknya juga tidak berkelanjutan, saya anggap mangkrak, saya bersuara, Pak,” tegasnya.
Melalui sidak tersebut, persoalan progres pekerjaan dan keselamatan di sekitar proyek menjadi dua hal yang disoroti. Warga berharap pembangunan jalan dapat diselesaikan sesuai rencana, sekaligus memastikan lingkungan kerja lebih aman bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang beraktivitas di kawasan tersebut.


