Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA - Kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian pekat menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.
Merespons kondisi udara yang terus memburuk, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim membuka opsi penerapan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring bagi para siswa.
Dampak kabut asap akibat karhutla tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat di wilayah terdampak parah, termasuk Kota Samarinda, Balikpapan dan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji mengakui paparan asap di ruang terbuka kini sudah berada pada tingkat yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga.
"Maka dari itu, kami akan buatkan surat edaran untuk kelas-kelas di sekolah. Apakah nantinya diterapkan sekolah daring atau penyesuaian jam belajar, ini akan segera kita diskusikan bersama Dinas Pendidikan," ujar Seno Aji, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan Rekapitulasi Data Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan dari BPBD Provinsi Kaltim per 11 Oktober 2026, total luasan area yang terbakar di Kaltim kini telah menembus angka 8.516,68 hektare.
Guna menjangkau titik-titik api (hotspot) yang masih membara di ceruk hutan dan lahan kering, Pemprov Kaltim terus memperkuat sarana pemadaman tim darat serta membangun komunikasi intensif dengan pemerintah pusat.
Seno Aji menyebut Gubernur, Rudy Mas'ud bersama jajaran BPBD telah berkoordinasi langsung dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendatangkan pasokan alat pemadam tambahan.
"Kemarin kita sudah bantu sebar 65 unit pompa," terangnya.
Bencana yang terjadi sejak kemarau dimulai pada pertengahan tahun ini membuat pemerintah terus siaga. Potensi eskalasi status kebencanaan juga sangat memungkinkan terjadi.
Seno Aji menegaskan bahwa opsi pengusulan status Bencana Nasional tetap terbuka jika sebaran karhutla dan kabut asap tak kunjung mereda.
Kendati demikian, untuk saat ini Pemprov Kaltim belum menetapkan status penanganan darurat nasional karena jajaran satgas daerah dinilai masih sanggup mengendalikan pergerakan api di lapangan.
"Kalau potensi atau kemungkinan ke arah bencana nasional itu pasti ada. Namun untuk saat ini, Kaltim masih kondusif dan titik-titik api masih bisa terus kita padamkan," pungkasnya.


