Reporter: Nur Hidayah | Editor: Buniyamin
TANJUNG REDEB – Kerajinan tenun Kampung Tumbit Melayu, Kabupaten Berau terus didorong agar tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk bernilai ekonomi yang mampu bersaing di pasar lebih luas.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui Pelatihan Tenun Kampung Tumbit Melayu 2026 di Rumah Tenun Meraang.
Kegiatan yang berlangsung pada 24 September hingga 12 Oktober 2026 ini menjadi ruang bagi para pengrajin untuk meningkatkan keterampilan, memperkaya kreativitas, serta memperbaiki kualitas hasil tenun.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau, Eva Yunita menilai pengembangan kerajinan tradisional perlu diiringi dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan pengrajin dalam membaca peluang pasar.
“Tenun lokal memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan daerah. Karena itu, keterampilan pengrajin harus terus ditingkatkan agar hasilnya semakin berkualitas, memiliki ciri khas, dan mampu bersaing,” ujar Eva.
Menurutnya, pelestarian budaya akan memberikan dampak lebih luas apabila mampu membuka peluang usaha dan menambah pendapatan masyarakat.
Untuk itu, pengembangan tenun tidak cukup hanya menjaga teknik pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga perlu mendorong inovasi tanpa menghilangkan identitas lokal.
Pelatihan tersebut menghadirkan Basori, pengrajin tenun dari Jepara, Jawa Tengah, serta Bernadetha Dualise Da Silva, pengrajin tenun Berau dari M@M@Be.
Kehadiran kedua pelatih diharapkan dapat memperluas wawasan peserta, mulai dari teknik pengerjaan hingga pengembangan kreativitas dalam menghasilkan kain tenun.
Kegiatan ini bersumber dari APBN dan PDRD Tahun 2026 serta merupakan usulan Kelompok Tenun Kampung Tumbit Melayu.
Pelaksanaannya dikoordinasikan Eni Herdiana selaku Pejabat Pelaksana Kegiatan bersama Maria Goreti Rande sebagai ketua panitia.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kampung Tumbit Melayu, Diskoperindag Berau, serta Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Eva berharap peningkatan kemampuan pengrajin dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat keberadaan tenun Berau di tengah persaingan produk kerajinan.
“Dengan kualitas yang semakin baik dan inovasi yang berkelanjutan, tenun Tumbit Melayu diharapkan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas,” tambahnya.
Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang bagi kerajinan tradisional untuk menjadi sumber penghasilan masyarakat, sehingga pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal. (Adv)



