Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Dugaan perundungan dan kekerasan antarsiswa menjadi salah satu persoalan yang disoroti anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu (14/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Hetifah menyerap aspirasi orang tua dan siswa, mulai dari perlindungan anak di asrama, pola pengasuhan, pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi hingga peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Aspirasi disampaikan melalui dialog langsung maupun masukan tertulis.
Menurut Hetifah, berbagai masukan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan Sekolah Rakyat semakin baik dan mampu memenuhi kebutuhan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Salah satu perhatian utama ialah kekhawatiran orang tua terhadap keamanan siswa di lingkungan asrama.
Mereka berharap pengawasan diperketat, pelanggaran ditangani secara adil, serta tenaga pengasuh menerapkan pola pendisiplinan yang ramah anak.
"Anak-anak yang bersekolah di sini datang dari latar belakang kehidupan yang beragam. Sebagian mungkin pernah mengalami situasi keluarga yang sulit, bahkan pengalaman traumatis. Karena itu, mereka membutuhkan pengasuhan yang penuh kesabaran, kasih sayang, dan pemahaman," ujar Hetifah dalam keterangannya.
Ia menegaskan, laporan dugaan kekerasan perlu ditelusuri secara objektif dengan mengutamakan keselamatan anak dan perlindungan korban.
Menurutnya, kedisiplinan tetap penting, tetapi tidak boleh dilakukan melalui kekerasan fisik maupun verbal.
Selain perlindungan anak, Hetifah juga menerima masukan mengenai pelayanan kesehatan di lingkungan sekolah.
Orang tua berharap tersedia tenaga kesehatan atau fasilitas medis yang memadai untuk menangani kebutuhan siswa.
Salah satu aspirasi berkaitan dengan anak yang memiliki kelainan jantung bawaan dan masih membutuhkan tindakan medis lanjutan, sementara keluarganya menghadapi keterbatasan biaya.
"Jangan sampai ada anak yang kesulitan mengikuti pendidikan karena kebutuhan kesehatannya belum tertangani. Saya berharap sekolah bersama Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan fasilitas kesehatan dapat membantu mencari solusi sesuai kebutuhan medis anak," ungkapnya.
Orang tua juga menyampaikan sejumlah masukan terkait kualitas makanan, pemenuhan kebutuhan gizi khusus, waktu istirahat, serta fasilitas dasar asrama.
Di sisi lain, kunjungan tersebut turut mengungkap harapan siswa untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Hetifah menilai keinginan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak Sekolah Rakyat memiliki cita-cita besar dan membutuhkan pendampingan untuk mewujudkannya.
"Saya senang sekali mendengar anak-anak sudah memikirkan bagaimana mereka bisa kuliah. Artinya, mereka punya mimpi dan semangat untuk mengubah masa depan," katanya.
Ia mendorong agar siswa memperoleh informasi dan bimbingan mengenai berbagai jalur pendidikan tinggi, termasuk program Beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) bagi yang memenuhi persyaratan.
Masukan lainnya meliputi penguatan pendidikan agama, penambahan kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran bahasa asing, serta penataan tata tertib asrama.
Sejumlah orang tua turut menyampaikan persoalan ekonomi keluarga, termasuk kebutuhan tempat tinggal.
Bagi Hetifah, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan, tetapi juga perlu didukung perlindungan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Sosial, Hetifah menekankan perlunya tindak lanjut konkret atas aspirasi yang diterima. Persoalan yang berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis siswa dinilai perlu mendapat perhatian segera.
"Keberhasilan Sekolah Rakyat bukan hanya berapa banyak anak yang berhasil kita sekolahkan, tetapi juga seberapa aman mereka tinggal, seberapa baik mereka diasuh, seberapa sehat mereka tumbuh, dan seberapa besar peluang mereka meraih masa depan yang lebih baik," tegasnya.
Ia berharap pengelola sekolah dan instansi terkait menjadikan masukan orang tua sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan Sekolah Rakyat, sehingga anak-anak dapat belajar dan tinggal di lingkungan yang aman, sehat, serta mendukung perkembangan mereka.


