Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Akses internet di desa-desa Kabupaten Kutim masih terbatas pada titik tertentu, terutama kantor desa.
Pemkab Kutim kini menargetkan perluasan jaringan melalui pengembangan Fiber Optic (FO) agar konektivitas internet dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim, Ronny Bonar H Siburian mengatakan penyediaan internet ditargetkan mencakup 139 desa, dua kelurahan, dan desa persiapan.
Namun, ketersediaan jaringan di kantor desa belum mencerminkan pemerataan akses internet bagi masyarakat.
“Kalau bicara pembangunan, kita sudah target 139 desa, dua kelurahan dan 15 desa persiapan itu paling tidak selalu ada internet. Cuma sementara ini tidak berbicara jangkauan, tapi titik,” ujar Ronny.
Menurut dia, pengembangan jaringan ke depan diarahkan agar internet tidak hanya tersedia di kantor desa, tetapi juga dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah penggunaan jaringan serat optik dengan dukungan kapasitas bandwidth.
“Ke depannya kita mencoba untuk semuanya kalau bisa desa itu dialiri internet. Jadi, kita hanya fokus dalam satu bentuk bandwidth yang dijalin dengan jaringan FO. Itu target ke depannya,” katanya.
Ronny menilai jaringan serat optik lebih murah dan efisien untuk mendukung konektivitas internet.
Teknologi ini juga dinilai dapat mengurangi risiko gangguan yang berkaitan dengan kondisi cuaca dibandingkan jaringan yang lebih bergantung pada faktor tersebut.
Selain memperluas jaringan kabel, Diskominfo Staper Kutim berupaya menambah infrastruktur telekomunikasi di wilayah yang membutuhkan dukungan konektivitas.
Sekitar dua bulan lalu, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengusulkan bantuan pembangunan menara telekomunikasi dan Base Transceiver Station (BTS).
Ronny menyebut, Kutim memperoleh tambahan satu BTS pada tahun ini sehingga jumlahnya menjadi lima unit.
Namun, ia mengaku belum sepenuhnya yakin mengenai lokasi penempatan BTS tambahan itu.
“Alhamdulillah tahun ini kita dapat satu BTS lagi. Jadi, total sudah ada lima. Itu di Batu Ampar kalau enggak salah,” jelasnya.
Sebagai informasi, koordinasi juga dilakukan dengan Pemerintah Provinsi Kaltim melalui program Gratispol.
Langkah ini dilakukan untuk menyelaraskan titik pembangunan infrastruktur telekomunikasi agar tidak terjadi tumpang tindih program.
Pengembangan jaringan serat optik diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses internet di Kutim.
Meski demikian, pemerataan layanan masih membutuhkan pengembangan infrastruktur agar konektivitas tidak berhenti pada penyediaan internet di kantor desa.


