Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Ketidakpastian pasokan dan harga kedelai masih menjadi persoalan bagi perajin tempe di Kelurahan Muara Jawa Ulu, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil harus memutar strategi agar produksi tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan akibat kenaikan harga jual.
Keluhan itu disampaikan Sugeng, perajin tempe saat anggota Komisi II DPRD Kukar, Rahmat Dermawan mengunjungi tempat usahanya di Muara Jawa.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung aktivitas produksi sekaligus mendengar kendala yang dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Sugeng mengungkapkan, sulitnya memperoleh kedelai dengan harga yang stabil berdampak langsung terhadap keberlangsungan usahanya.
Di satu sisi, biaya produksi harus menyesuaikan harga bahan baku dan di sisi lain, kenaikan harga tempe berisiko memengaruhi daya beli konsumen.
“Kami kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kedelai yang harganya sering kali tidak stabil di pasaran. Fluktuasi harga ini menempatkan kami dalam situasi yang sulit; harus memilih antara menaikkan harga jual yang berisiko menurunkan daya beli konsumen atau mempertahankan harga dengan mengorbankan keuntungan yang sudah sangat tipis,” ungkap Sugeng.
Ia berharap pemerintah dapat turun tangan membantu mempermudah akses perajin terhadap bahan baku dengan harga yang lebih terjangkau dan stabil. Kepastian pasokan dinilai penting agar pelaku usaha dapat mempertahankan produksi tanpa terus dibayangi perubahan biaya.
Menanggapi keluhan tersebut, Rahmat menegaskan aspirasi pelaku UMKM perlu ditindaklanjuti, bukan sekadar menjadi catatan saat kunjungan lapangan.
Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha dapat menjadi bahan evaluasi dalam merumuskan kebijakan pemerintah daerah.
“Setiap masukan dari pelaku UMKM di lapangan tidak akan berhenti sebagai catatan semata, melainkan akan dikawal serius dan dirumuskan menjadi program kebijakan nyata di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kukar pada waktu yang akan datang,” ujarnya. Kamis (15/10/2026)
Persoalan bahan baku menjadi perhatian tersendiri di tengah dukungan yang telah diberikan kepada Sugeng.
Sebelumnya, Rahmat juga menyalurkan bantuan berupa peralatan penunjang produksi untuk membantu aktivitas usaha perajin tempe tersebut.
Meski demikian, dukungan peralatan belum sepenuhnya menjawab tantangan yang dihadapi perajin. Ketersediaan kedelai dengan harga yang terjangkau tetap menjadi faktor penting agar proses produksi berjalan lancar dan usaha dapat bertahan.
Ia berharap koordinasi antara legislatif, pemerintah daerah, dan pelaku UMKM terus diperkuat sehingga persoalan yang muncul di lapangan dapat ditindaklanjuti secara konkret.
Bagi perajin tempe skala kecil, kepastian bahan baku bukan hanya menyangkut biaya produksi, tetapi juga keberlanjutan usaha dan kemampuan menjaga harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat. (Adv)


