Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin
BONTANG – Kasus kehamilan anak di bawah umur di Kota Bontang menjadi perhatian serius.
Sebab selama periode Januari hingga Juni 2026, tercatat sebanyak 59 kasus kehamilan diatas umur 20 tahun, sedangkan 23 kehamilan dibawah umur 20 tahun di antaranya dialami oleh anak di bawah umur, Kamis (15/10/2026).
Data tersebut disampaikan Dokter Spesialis Kandungan RS Amalia, dr Pakhruzzabadi atau yang akrab disapa dr Badi.
Ia mengaku prihatin dengan masih tingginya angka kehamilan anak di bawah umur di Kota Bontang, meskipun wilayah kota ini relatif kecil.
Menurut dr Badi, angka tersebut menunjukkan persoalan kehamilan pada usia anak dan remaja di Bontang perlu mendapat perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
“Kota dengan luas wilayah yang sangat kecil ini sangat miris ketika melihat kondisi ini. Saya tidak hanya menggunakan kata tinggi lagi, tapi sangat tinggi,” katanya beberapa waktu lalu dalam sebuah seminar yang dilaksanakan di Gedung Auditorium 3dimensi Kota Bontang.
Ia mengungkapkan, kasus kehamilan pada usia yang masih sangat muda masih ditemukan. Bahkan, terdapat anak yang harus menjalani proses persalinan ketika usianya baru menginjak 15 tahun. “Banyak anak-anak yang melahirkan anak. Ada yang 19 tahun, 18 tahun, bahkan ada 15 tahun,” terangnya.
Berdasarkan data tersebut, dari total 59 kehamilan yang tercatat selama enam bulan pertama 2026, sebanyak 23 kasus atau sekitar 39 persen merupakan kehamilan di bawah umur. Artinya, hampir empat dari setiap 10 kehamilan yang tercatat dalam periode tersebut dialami kelompok usia di bawah umur.
Angka ini menjadi gambaran bahwa persoalan kehamilan usia dini masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara bersama-sama, baik melalui edukasi kesehatan reproduksi, pendampingan keluarga, maupun perhatian dari lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Kehamilan pada usia anak dan remaja juga membutuhkan perhatian khusus karena dapat berkaitan dengan risiko kesehatan bagi ibu maupun bayi, serta dampak terhadap pendidikan dan perkembangan psikososial anak.
Karena itu, upaya pencegahan perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari orang tua, tenaga kesehatan, sekolah, hingga pemerintah daerah. Edukasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi, pengawasan dan pendampingan terhadap anak, serta akses terhadap layanan kesehatan yang ramah remaja menjadi bagian penting dalam melindungi generasi muda.
Tingginya proporsi kehamilan di bawah umur yang disampaikan dr. Badi menjadi pengingat bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai masalah individu semata. Diperlukan perhatian dan langkah nyata secara bersama agar anak-anak di Kota Bontang mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.


