Kenalkan Keanekaragaman Hayati, Siswa SMAN 1 Lumbis Diajak Masuki  Hutan TNKM

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Para pelajar dari SMAN 1 Lumbis saat menyambangi Kantor Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Para pelajar dari SMAN 1 Lumbis saat menyambangi Kantor Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kenalkan Keanekaragaman Hayati, Siswa SMAN 1 Lumbis Diajak Masuki  Hutan TNKM

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Para pelajar dari SMAN 1 Lumbis saat menyambangi Kantor Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Para pelajar dari SMAN 1 Lumbis saat menyambangi Kantor Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kenalkan Keanekaragaman Hayati, Siswa SMAN 1 Lumbis Diajak Masuki  Hutan TNKM

Para pelajar dari SMAN 1 Lumbis saat menyambangi Kantor Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN – Mengenal kekayaan alam secara langsung menjadi salah satu cara menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan. Melalui pendidikan lingkungan hidup, siswa SMA Negeri 1 Lumbis diperkenalkan dengan keanekaragaman hayati dan pentingnya menjaga kelestarian Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).

Kegiatan yang dilaksanakan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai fungsi hutan, kawasan konservasi, serta peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Kepala Seksi SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan mengatakan, bahwa para pelajar diajak memahami hutan bukan sekadar kawasan yang dipenuhi pepohonan, melainkan ekosistem yang menopang kehidupan berbagai jenis flora dan fauna serta menjaga keseimbangan tanah, air dan udara.

"Mereka juga mempelajari perbedaan antara hutan dan kawasan hutan, termasuk pembagian fungsi hutan menjadi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi," ujar Hery kepada pusaranmedia.com, Jumat (16/10/2026).

Pemahaman tersebut, lanjut Hery, menjadi dasar untuk mengenali pentingnya taman nasional sebagai kawasan yang berperan dalam perlindungan keanekaragaman hayati.

TNKM sendiri memiliki luas sekitar 1.271.700 hektare dan mencakup wilayah Kabupaten Malinau serta Kabupaten Nunukan. Pengelolaannya terbagi dalam tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional, yakni Wilayah I Long Bawan, Wilayah II Long Alango dan Wilayah III Long Ampung.

Khusus SPTN Wilayah I Long Bawan, wilayah kerjanya meliputi Resor Krayan dan Resor Lumbis. Pengelolaan kawasan dilakukan melalui perlindungan dan pengamanan, pemantauan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat.

"Untuk memberikan gambaran nyata tentang kekayaan alam yang dilindungi, para siswa diperlihatkan dokumentasi sejumlah satwa liar yang hidup di kawasan TNKM, seperti beruang madu, rusa sambar, kijang, kucing hutan, beruk dan puyuh sengayan," ujarnya.

Keanekaragaman flora, termasuk anggrek dan Rafflesia, turut diperkenalkan kepada para pelajar. Selain itu, potensi wisata alam berupa perbukitan dan bentang alam yang diselimuti awan menjadi bagian dari materi pengenalan kawasan konservasi tersebut.

Heri mengatakan pengenalan lingkungan kepada pelajar merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran tentang tanggung jawab menjaga alam sejak dini.

“Taman Nasional Kayan Mentarang adalah warisan alam yang harus kita jaga bersama untuk anak cucu kita, dan generasi muda memegang peran penting untuk meneruskannya,” ucap Hery.

Menurut dia, pemahaman tentang lingkungan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang mendukung pelestarian alam.

Selain mempelajari ekosistem hutan, siswa juga mendapatkan edukasi mengenai dampak perilaku manusia terhadap kondisi bumi. Mereka diajak membandingkan lingkungan yang terjaga dengan lingkungan yang mengalami kerusakan serta memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.

"Salah satu hal yang ditekankan ialah pengelolaan sampah dan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Para pelajar didorong mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghindari pemborosan, mengurangi pembelian barang yang tidak diperlukan, serta memilih produk pangan lokal," ucapnya.

Petugas juga mengenalkan prinsip 3R, yaitu reduce atau mengurangi sampah, reuse atau menggunakan kembali barang yang masih layak dan recycle atau mendaur ulang sampah agar dapat dimanfaatkan kembali.

Pengurangan plastik sekali pakai dan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya menjadi contoh tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan.

Materi tersebut mendapat respons positif dari para siswa. Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan mengenai hutan, kawasan TNKM dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Salah seorang siswa, Viona, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai manfaat hutan dan pentingnya keberadaan TNKM setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Sebelumnya saya hanya tahu nama Taman Nasional Kayan Mentarang. Hari ini saya jadi tahu bahwa hutan punya banyak manfaat dan harus kita jaga bersama. Senang sekali bisa belajar langsung dan mendengar cerita petugas yang menjaga hutan,” ungkap Viona.

Hal serupa disampaikan Desmas, siswa SMAN 1 Lumbis lainnya. Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

“Ternyata menjaga alam bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengurangi plastik sekali pakai dan tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Camat Lumbis Hulu, Justinus, menilai pengenalan TNKM kepada pelajar penting untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap kekayaan alam yang berada di wilayah mereka.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan disebarluaskan kepada keluarga serta masyarakat di kampung masing-masing.

“Kami ingin anak-anak kita mengenal langsung Taman Nasional Kayan Mentarang yang menjadi kebanggaan kita bersama. Harapan kami, setelah kunjungan ini mereka tumbuh menjadi generasi yang peduli dan ikut menjaga hutan, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di kampung masing-masing,” pungkasnya