Banner ADV

Kota Wisata Berau Jangan Sampai Terkesan Kumuh, Pemilahan Sampah Didorong dari Rumah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Tempat sampah untuk memilah sampah organik dan nonorganik. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Tempat sampah untuk memilah sampah organik dan nonorganik. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kota Wisata Berau Jangan Sampai Terkesan Kumuh, Pemilahan Sampah Didorong dari Rumah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Tempat sampah untuk memilah sampah organik dan nonorganik. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Tempat sampah untuk memilah sampah organik dan nonorganik. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kota Wisata Berau Jangan Sampai Terkesan Kumuh, Pemilahan Sampah Didorong dari Rumah

Tempat sampah untuk memilah sampah organik dan nonorganik. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Berau dikenal dengan pesona wisata bahari, pulau-pulau eksotis, hingga kekayaan alam dan budaya yang menjadi daya tarik wisatawan. 

Namun, citra daerah pariwisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, melainkan juga kebersihan kawasan perkotaan yang pertama kali dilihat pengunjung saat datang.

Persoalan sampah pun menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi bersama. Kecamatan Tanjung Redeb kini mendorong perubahan pengelolaan sampah dari lingkungan rumah tangga agar sampah tidak terus menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus menjaga wajah ibu kota Kabupaten Berau tetap bersih dan nyaman.

Program pemilahan sampah yang telah berjalan selama tiga bulan itu diperluas ke enam kelurahan. Warga didorong memisahkan sampah organik hewani, organik nabati, dan nonorganik sebelum dibuang, sehingga sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung berakhir di TPA.

Camat Tanjung Redeb, Ahmad Juhri, menilai persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Perubahan harus dimulai dari kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah setiap hari, terutama sejak dari rumah.

Langkah awal program ini bahkan dimulai dari lingkungan internal pemerintah kecamatan dan kelurahan. Para pimpinan diminta menerapkan pemilahan sampah di rumah masing-masing sebelum mengajak masyarakat melakukan hal serupa.

“Pemilahan sampah ini kita awali dari rumah pimpinan dulu,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat program tidak berhenti sebatas imbauan. Pemerintah ingin membangun kebiasaan yang bisa diterapkan secara sederhana oleh masyarakat, tanpa harus menunggu tersedianya fasilitas pengelolaan sampah yang lengkap.

Sebagai tahap awal, pemerintah kecamatan menargetkan sedikitnya satu Rukun Tetangga (RT) di setiap kelurahan menjadi percontohan. Wadah pemilahan mulai didistribusikan, sementara Kelurahan Gayam dan Bedungun disebut menunjukkan kesiapan untuk menjalankan program tersebut.

Masyarakat juga tidak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memulai kebiasaan baru ini. Barang bekas seperti ember cat berukuran 25 liter dapat dimanfaatkan sebagai tempat menampung sampah berdasarkan jenisnya.

Cara sederhana itu menjadi salah satu upaya agar pemilahan sampah dapat diterapkan lebih luas. Sebab, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penyediaan tempat sampah, tetapi juga kemauan warga untuk mengubah cara mereka memperlakukan sampah.

Di sisi lain, keberadaan bank sampah yang telah tersedia di hampir seluruh kelurahan menjadi peluang untuk memperpanjang usia guna barang bekas. Sampah nonorganik yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan disalurkan untuk didaur ulang, sehingga tidak seluruhnya menambah beban TPA.

“Harapannya, sampah yang masih bisa dimanfaatkan tidak langsung dibuang,” kata Ahmad.

Bagi Berau yang terus mengembangkan sektor pariwisata, kebersihan kota menjadi bagian penting dari pengalaman pengunjung. Wisatawan tidak hanya berinteraksi dengan destinasi unggulan, tetapi juga melewati jalan, permukiman, pertokoan, dan ruang publik yang membentuk kesan terhadap daerah tersebut.

Karena itu, menjaga kebersihan Tanjung Redeb tidak cukup dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih sesaat. Pengurangan sampah dari sumbernya perlu berjalan beriringan dengan kedisiplinan warga, pengangkutan yang tertib, serta pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Ahmad berharap masyarakat mulai memandang sampah bukan sekadar barang buangan. Dengan memilah sejak dari rumah, material yang masih bisa didaur ulang dapat dimanfaatkan, sementara beban sampah yang dibawa ke TPA berpeluang berkurang.

“Prinsipnya, setiap sampah harus punya nilai daur ulang,” pungkasnya.

Jika kebiasaan ini tumbuh di seluruh kelurahan, upaya menjaga Berau bukan hanya tentang mempertahankan keindahan objek wisatanya. Kota yang bersih dan tertata juga menjadi bagian dari wajah pariwisata yang layak dibanggakan. (Adv)