Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan sepanjang periode Juli hingga Oktober 2026.
Grafik penderita gangguan pernapasan di Ibu Kota Kaltim ini terus menanjak tajam seiring maraknya musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data rekapitulasi Dinkes Samarinda, jumlah penderita ISPA pada Juli 2026 tercatat sebanyak 8.610 kasus.
Kemudian melonjak menjadi 10.681 kasus pada Agustus dan mencapai puncaknya pada September dengan 12.819 kasus.
Sementara hingga pertengahan Oktober saja, kasus ISPA sudah menembus angka 6.709 penderita.
Di tengah lonjakan belasan ribu kasus ISPA tersebut, publik Samarinda sempat dihebohkan dengan kabar meninggalnya seorang bayi berusia satu tahun berinisial YS di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, yang diduga dipicu oleh paparan asap karhutla.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, menegaskan bahwa berdasarkan penelusuran epidemiologi dan surveillance ke rumah sakit rujukan terakhir, penyebab kematian balita tersebut bukan dikarenakan karhutla.
"Diagnosa dari dokter yang terakhir merawat tidak disebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla," tegas Ismid.
Kendati demikian, tingginya angka ISPA hingga belasan ribu kasus menjadi sinyal kewaspadaan bagi warga Samarinda, khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak, untuk terus membatasi aktivitas di luar rumah di tengah kepulan asap karhutla.


