Oleh: Achmad Fadillah | Reporter Pusaranmedia.com
BARU saya temui jawawut ini. Tanaman yang sekilas menyerupai padi tumbuh di kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Daun Sop Ceria, Jalan Soekarno-Hatta Kilometer (Km) 21 RT 41, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara.
Kenapa saya katakan mirip, karena bulir-bulirnya tumbuh bergerombol di ujung batang. Semakin berisi, tangkainya tampak semakin merunduk. Penglihatan tersebut mengingatkan saya pada tanaman padi itu sebagai sumber pangan utama masyarakat Indonesia.
Saya pertama kali menemui jawawut saat berkunjung ke KWT Daun Sop Ceria bersama PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan yang berdiri pada tahun 2022. Di lahan seluas 1,5 hektare (ha) itu, jawawut tumbuh bersama beragam tanaman pangan dan hortikultura lainnya.
Ketua KWT Daun Sop Ceria, Sanati menjelaskan bahwa jawawut berpotensi menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat selain beras. Tanaman ini juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan karena dapat tumbuh dalam kondisi lingkungan tertentu dengan perawatan yang relatif sederhana.
“Jawawut bisa jadi pengganti beras, loh. Mudah dikembangkan dan sangat bagus kualitasnya,” ucap Sanati.
Mendengar penjelasan tersebut, saya mulai melihat jawawut bukan hanya sebagai tanaman yang menarik untuk diketahui, tetapi juga sebagai salah satu pilihan pangan yang layak dieksplorasi lebih jauh.
Selama ini, beras masih menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat. Sementara itu, kebutuhan pangan Kota Balikpapan turut ditopang pasokan dari daerah penghasil di luar Kalimantan, termasuk Pulau Jawa dan Sulawesi.
Kondisi tersebut membuat upaya memperkuat ketahanan pangan lokal menjadi penting. Ketika kebutuhan masyarakat sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah, pengembangan sumber pangan alternatif dan pemanfaatan lahan produktif di dalam kota patut mendapat perhatian.
Jawawut tentu tidak bisa serta-merta menggantikan beras dalam waktu singkat. Pengembangannya masih perlu mempertimbangkan produktivitas, kesesuaian lahan, ketersediaan benih, proses pengolahan, harga, serta kebiasaan konsumsi masyarakat.
Namun, keberadaan jawawut di kebun KWT Daun Sop Ceria setidaknya memperlihatkan bahwa sumber pangan tidak harus selalu terpaku pada beras. Keragaman pangan dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas sekaligus membuka peluang budidaya tanaman pangan lokal.
Dari Kebun KWT hingga Pekarangan Rumah
Gagasan ketahanan pangan tidak harus berhenti pada pengembangan komoditas alternatif. Pengalaman melihat aktivitas KWT Daun Sop Ceria juga membuat saya berpikir bahwa model pengelolaan kebun seperti ini dapat diterapkan dalam lingkup yang lebih kecil, mulai dari lingkungan Rukun Tetangga (RT) atau pekarangan rumah.
KWT Daun Sop Ceria tidak hanya menanam satu jenis tanaman. Mereka juga membudidayakan buah naga, pepaya, jambu air, jambu biji, pisang, dan berbagai jenis sayuran.
Dari beragam komoditas tersebut, buah naga menjadi salah satu tanaman yang memberikan nilai ekonomi bagi kelompok. Hasil panennya dilaporkan dapat mencapai sekitar 500 kilogram per bulan, dengan harga berkisar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Pemasukan yang diperoleh kemudian dicatat dan dibahas bersama untuk menentukan pemanfaatannya, termasuk kemungkinan dibagikan kepada anggota atau digunakan kembali untuk mengembangkan usaha kelompok.
Mereka juga memanfaatkan jagung untuk pakan ayam petelur dan mengolah limbah tanaman menjadi kompos. Pola ini menunjukkan bahwa kegiatan berkebun bisa dikembangkan tidak hanya untuk menghasilkan bahan pangan, tetapi juga memanfaatkan sumber daya yang tersedia agar lebih produktif.
Prinsip serupa sebenarnya dapat dimulai di lingkungan permukiman. Warga yang memiliki pekarangan bisa menanam cabai, kangkung, bayam, tomat, atau tanaman pangan lain sesuai kondisi lahan. Sementara itu, warga yang tidak memiliki pekarangan dapat berinisiatif memanfaatkan lahan bersama apabila tersedia dan memungkinkan untuk dikelola.
Jika dilakukan secara kolektif, hasil kebun tersebut bisa dibagikan, dijual, atau dipertukarkan melalui sistem barter. Misalnya, warga yang memiliki kelebihan sayuran dapat menukarnya dengan telur, buah, atau hasil kebun tetangga lainnya.
Sistem barter tentu memiliki keterbatasan dan tidak dapat menggantikan seluruh kebutuhan belanja rumah tangga. Meski demikian, cara ini berpotensi membantu warga memperoleh sebagian kebutuhan pangan tanpa harus selalu mengeluarkan uang. Dalam skala lingkungan, kebiasaan tersebut juga dapat memperkuat hubungan sosial dan mendorong warga lebih aktif mengelola potensi yang ada di sekitarnya.
Jika diterapkan secara konsisten, kebun warga bisa menjadi salah satu upaya pendukung ketahanan pangan rumah tangga. Dampaknya terhadap inflasi secara luas memang tidak bisa diasumsikan begitu saja, tetapi produksi pangan skala kecil berpotensi mengurangi sebagian pengeluaran dan ketergantungan warga terhadap pembelian komoditas tertentu di pasar.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Langkah Kecil
KWT Daun Sop Ceria juga mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan selama dua tahun terakhir. Dukungan tersebut antara lain berupa gazebo, sistem penyiraman otomatis untuk tanaman buah naga, sumur bor, kolam ikan sistem bioflok, ayam petelur, hingga mesin pengolah pelet.
Berbagai dukungan itu membantu kelompok mengembangkan kegiatan pertanian agar tetap produktif dan hidup. Di sisi lain, mereka juga menempatkan sejumlah tanaman di bagian luar kebun agar orang yang melintas dapat memetik hasilnya secara gratis.
Hal sederhana tersebut memperlihatkan bahwa kebun tidak selalu harus berorientasi pada keuntungan. Ada pula nilai berbagi dan semangat memanfaatkan hasil bumi untuk kepentingan bersama.
Bagi saya, kunjungan ke KWT Daun Sop Ceria memberikan perspektif bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah, petani berskala besar, atau daerah penghasil. Masyarakat di perkotaan juga dapat mengambil bagian melalui langkah-langkah sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan dan lingkungan masing-masing.
Jawawut bisa menjadi pintu untuk mengenalkan keragaman pangan. Kebun KWT dapat menjadi contoh pengelolaan lahan secara bersama. Sementara itu, pekarangan rumah dan lahan lingkungan RT bisa menjadi titik awal bagi warga untuk memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri.
Balikpapan mungkin belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangannya dari produksi lokal. Namun, upaya memperkuat ketahanan pangan dapat dimulai dengan mengembangkan pilihan sumber pangan, memanfaatkan lahan yang tersedia, dan membangun kebiasaan saling berbagi.
Sebab, ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas atau program besar. Terkadang, langkah awalnya cukup dengan menanam beberapa sayuran di pekarangan, mengelola kebun bersama tetangga, atau mencoba mengenal sumber karbohidrat lain selain beras.
Dari kebun kecil dan inisiatif warga itulah, upaya membangun ketahanan pangan lokal dapat mulai tumbuh.
Kolaborasi Pertamina dan Masyarakat
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun mengungkapkan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak hanya bergantung pada dukungan perusahaan, tetapi juga pada kemauan masyarakat untuk terlibat dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Menurutnya, KWT Daun Sop Ceria menjadi salah satu contoh program yang mendapat respons baik dari masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peran kelompok dalam mengintegrasikan dukungan perusahaan dengan kebutuhan warga.
“Sebagus apa pun program yang disampaikan perusahaan, kembali lagi bagaimana masyarakat mau terlibat langsung dalam urusan pemberdayaan,” ujarnya.
Edi berharap, kunjungan ke KWT Daun Sop Ceria sebagai binaannya dapat memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Pertamina di luar operasional utamanya. Ia juga menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar program yang dijalankan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat.
Mendengar penjelasan Edi Mangun tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program pemberdayaan, saya melihat peluang agar gagasan ketahanan pangan di tingkat lingkungan dapat dikembangkan lebih jauh. Bukan hanya melalui kelompok wanita tani, tetapi juga dengan mendorong warga memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan bersama untuk menghasilkan pangan.
Ke depan, inovasi seperti ini berpeluang dikembangkan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta. Sistem berbagi hasil panen maupun barter antarwarga juga dapat menjadi alternatif untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan rumah tangga.
Tentu, gagasan tersebut membutuhkan perencanaan dan keterlibatan warga agar bisa berjalan secara berkelanjutan. Namun, jika kebun kelompok seperti KWT Daun Sop Ceria mampu menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang ada, bukan tidak mungkin semangat serupa tumbuh di lingkungan RT dan permukiman lainnya di Balikpapan.


