Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, berupaya mendorong pertumbuhan investasi melalui pengembangan kawasan industri seluas 5.000 Hektare (Ha).
Kawasan ini diproyeksikan menjadi salah satu daya tarik bagi investor sekaligus mendukung pergeseran ekonomi daerah menuju sektor non-ekstraktif.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kukar, Alfian Noor mengatakan pengembangan kawasan industri menjadi salah satu langkah yang perlu dipercepat untuk menjawab lesunya investasi.
Menurutnya, kesiapan kawasan industri menjadi faktor penting yang kerap ditanyakan calon investor ketika pemerintah daerah melakukan forum bisnis maupun penjajakan investasi.
“Memang yang paling pertama dipertanyakan oleh para calon-calon investor itu, lokasinya Pak sudah siap belum?” ujarnya. Senin (19/10/2026)
Pertanyaan tersebut, kata Alfian, menunjukkan bahwa investor tidak hanya membutuhkan kepastian lokasi, tetapi juga dukungan infrastruktur yang memadai untuk menunjang kegiatan usaha.
Karena itu, Pemkab Kukar berupaya mempercepat penyiapan kawasan industri, termasuk penyelesaian regulasi yang saat ini masih dibahas di DPRD.
Alfian berharap ketika regulasi dan kesiapan kawasan telah terpenuhi, maka peluang untuk menarik investasi baru ke Kukar semakin terbuka.
Kawasan industri tersebut juga direncanakan terhubung dan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus yang berada di Marangkayu. Konektivitas ini diharapkan mampu memperkuat daya saing kawasan sekaligus memberikan kemudahan bagi investor dalam mengembangkan usahanya.
Dengan luas mencapai 5.000 Ha, kawasan industri itu diharapkan menjadi salah satu modal Kukar dalam menawarkan peluang investasi, terutama untuk kegiatan industri pengolahan.
Upaya tersebut sejalan dengan arah kebijakan Bupati Kukar yang mendorong penguatan sektor non-ekstraktif. Dengan demikian, perekonomian daerah tidak hanya bertumpu pada sektor yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga berkembang melalui kegiatan industri yang menghasilkan nilai tambah.
“Sekarang 'kan Pak Bupati mendorong sektor non-ekstraktif, bagaimana sih kita menjadi industri-industri pengolahan,” tutup Alfian.(Adv)



