BPS Catat Kemiskinan Nunukan 5,23 Persen, Penduduk Miskin Capai 11.990 Orang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmadien saat memberikan rilis indeks angka kemiskinan di Kabupaten Nunukan kepada awak media (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)
Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmadien saat memberikan rilis indeks angka kemiskinan di Kabupaten Nunukan kepada awak media (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BPS Catat Kemiskinan Nunukan 5,23 Persen, Penduduk Miskin Capai 11.990 Orang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmadien saat memberikan rilis indeks angka kemiskinan di Kabupaten Nunukan kepada awak media (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)
Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmadien saat memberikan rilis indeks angka kemiskinan di Kabupaten Nunukan kepada awak media (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BPS Catat Kemiskinan Nunukan 5,23 Persen, Penduduk Miskin Capai 11.990 Orang

Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmadien saat memberikan rilis indeks angka kemiskinan di Kabupaten Nunukan kepada awak media (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin 

NUNUKAN – Persentase penduduk miskin di Kabupaten Nunukan, pada Maret 2026 tercatat sebesar 5,23 persen. Angka tersebut menurun 0,04 poin persentase dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 5,27 persen. Tapi di tengah penurunan persentase tersebut, jumlah penduduk miskin justru mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan pada 16 Oktober 2026, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 11,99 ribu orang. Jumlah ini bertambah sekitar 180 orang dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebanyak 11,81 ribu orang.

Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien mengatakan data BPS menunjukkan bahwa penurunan persentase kemiskinan belum sepenuhnya diikuti penurunan jumlah penduduk miskin.

Kondisi ini memperlihatkan perkembangan kemiskinan perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi juga jumlah penduduk terdampak dan kondisi pengeluaran mereka.

Jika dibandingkan dengan Maret 2024, persentase penduduk miskin Nunukan turun 0,50 poin persentase dari 5,73 persen menjadi 5,23 persen. Sementara jumlah penduduk miskin berkurang 620 orang, dari 12,61 ribu orang pada 2024 menjadi 11,99 ribu orang pada 2026.

Dalam kurun waktu 2016–2026, persentase penduduk miskin di Kabupaten Nunukan mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun setelah mencapai angka tertinggi pada 2021.

Pada 2016, persentase penduduk miskin tercatat sebesar 5,25 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 6,22 persen pada 2017 dan 6,71 persen pada 2018.

Setelah turun menjadi 6,11 persen pada 2019, persentase kemiskinan kembali meningkat pada masa pandemi COVID-19, yakni 6,36 persen pada 2020 dan 6,79 persen pada 2021.

"Perbaikan mulai terlihat pada 2022 ketika persentase penduduk miskin turun menjadi 6,13 persen. Angka tersebut kembali menurun menjadi 5,53 persen pada 2023, sebelum meningkat menjadi 5,73 persen pada 2024," ujar Iskandar kepada awak media di Nunukan, Selasa (20/10/2026).

Pada 2025, lanjut Iskandar, persentase kemiskinan turun menjadi 5,27 persen dan kembali menyusut menjadi 5,23 persen pada 2026.

Meski demikian, tren penurunan tersebut perlu dicermati secara proporsional. Dalam rentang sepuluh tahun, persentase penduduk miskin hanya turun 0,02 poin persentase dibandingkan kondisi 2016.

Dari sisi jumlah, penduduk miskin Nunukan tercatat sebanyak 9,63 ribu orang pada 2016. Jumlah itu meningkat hingga mencapai puncak 13,94 ribu orang pada 2021, kemudian berangsur menurun dalam beberapa tahun berikutnya, meskipun kembali mengalami kenaikan pada 2024 dan 2026.

"Data ini menunjukkan pentingnya upaya pengentasan kemiskinan yang konsisten dan berkelanjutan, terutama untuk memastikan bahwa perbaikan indikator statistik turut dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Selain persentase dan jumlah penduduk miskin, perkembangan kemiskinan juga dapat dilihat melalui Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2).

Pada Maret 2026, Indeks Kedalaman Kemiskinan Kabupaten Nunukan tercatat sebesar 0,39. Angka tersebut turun dari 1,26 pada 2025 dan 0,82 pada 2024.

"Indeks P1 menggambarkan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilainya, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan," ucap Iskandar.

Penurunan P1 pada 2026 mengindikasikan bahwa kesenjangan pengeluaran rata-rata penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin menyempit. Artinya, secara rata-rata, kondisi pengeluaran kelompok penduduk miskin menjadi lebih dekat dengan batas garis kemiskinan.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada 2026 turun menjadi 0,08, dibandingkan 0,55 pada 2025 dan 0,23 pada 2024.

Indeks P2 menggambarkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilainya, semakin besar ketimpangan pengeluaran dalam kelompok tersebut.

"Penurunan P2 menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin menyempit. Bahkan, nilai 0,08 pada 2026 menjadi yang terendah sepanjang periode 2016–2026," ucapnya.

Meski kedua indikator ini menunjukkan perbaikan, bertambahnya jumlah penduduk miskin dari 11,81 ribu orang pada 2025 menjadi 11,99 ribu orang pada 2026 menunjukkan bahwa tantangan pengentasan kemiskinan masih perlu mendapat perhatian.