Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan
BONTANG – Lapas Kelas IIA Bontang menjadi salah satu sasaran skrining tuberkulosis (TBC) terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mendeteksi kasus sejak dini dan menekan risiko penularan di lingkungan pemasyarakatan.
Hingga Triwulan III 2026, tercatat tiga kasus TBC dari 48 orang terduga di Lapas Kelas IIA Bontang. Ketiga pasien tersebut telah memulai pengobatan.
Skrining terintegrasi itu dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni di Lapas Kelas IIA Bontang, Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Bontang bersama pihak lapas dengan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable dari Kementerian Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan skrining menyasar warga binaan dan petugas lapas. Pemeriksaan meliputi penelusuran gejala, rontgen dada menggunakan X-Ray Portable, serta Cek Kesehatan Gratis.
Langkah ini menjadi bagian dari program prioritas nasional untuk mendukung eliminasi TBC pada 2030.
Kota Bontang mendapat alokasi 73 lokus skrining TBC terintegrasi CKG. Dari jumlah tersebut, 29 lokus memperoleh pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable, sedangkan 44 lokus lainnya menjalani skrining berdasarkan gejala.
Lapas Kelas IIA Bontang menjadi lokus pertama di Kota Bontang yang mendapat pendampingan pemeriksaan menggunakan perangkat tersebut.
“Pemeriksaan kesehatan ini penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini, terutama tuberkulosis yang dapat menular melalui udara,” ujar Neni.
Ia menegaskan, pelayanan kesehatan merupakan hak setiap warga, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana. Karena itu, upaya deteksi dini perlu diperkuat agar pasien dapat segera memperoleh penanganan dan mencegah penularan lebih luas.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, capaian pengobatan TBC di Kota Bontang mencapai sekitar 94 persen. Pemerintah menargetkan angka itu terus meningkat melalui perluasan skrining, penemuan kasus aktif, dan pendampingan pasien hingga pengobatan tuntas.
Dinas Kesehatan juga mendapat dukungan satu unit X-Ray Portable dan lima unit alat tes molekuler cepat untuk puskesmas guna memperkuat pemeriksaan dan penegakan diagnosis TBC.
Selain aspek kesehatan, kondisi hunian lapas turut menjadi perhatian. Lapas Kelas IIA Bontang saat ini dihuni 1.814 orang, jauh di atas kapasitas yang hanya 594 orang.
Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Agus Wiyono, mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dalam pemeriksaan, pengobatan, hingga rujukan rumah sakit bagi warga binaan.
“Kami berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pembinaan yang bermanfaat sehingga nantinya dapat kembali ke keluarga dan masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, serta tidak mengulangi pelanggaran hukum,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komite I DPD RI Andi Sofyan Hasdam mendorong penguatan pelatihan keterampilan dan peluang usaha bagi warga binaan sebagai bekal untuk kembali ke masyarakat.
Usai pembukaan kegiatan, Neni bersama rombongan meninjau Klinik Pratama Lapas Kelas IIA Bontang untuk melihat fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bagi warga binaan.


